Viral di Twitter Video Asusila Pasangan Sesama Jenis, Dua Pria di Banjarnegara Jadi Tersangka

- 15 Februari 2022, 09:04 WIB
Ilustrasi Video Viral. Setelah Viral dan Membuat Heboh Warga Banjarnegara, Kedua Pelaku Berhasil Ditangkap Polisi.*
Ilustrasi Video Viral. Setelah Viral dan Membuat Heboh Warga Banjarnegara, Kedua Pelaku Berhasil Ditangkap Polisi.* /Pixabay

PIKIRAN RAKYAT - Polisi menetapkan pasangan sesama jenis sebagai tersangka dalam kasus video asusila yang sempat viral di media sosial.

Dua orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Banjarnegara, Jawa Tengah, adalah pria berinisial J (24) dan VD (17).

Kapolres Banjarnegara AKBP Hendri Yulianto mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap para saksi, keduanya ditetapkan sebagai tersangka sejak tanggal 9 Februari 2022.
 
Kemudian tersangka J (24) ditahan guna proses penyidikan lebih lanjut.
 
Baca Juga: Atta Halilintar Syok Lihat Wajah Anak Sendiri, Ashanty Geleng Kepala: Sudah Sudah Aduh!

“Adapun VD (17) tidak ditahan karena masih dibawah umur dan masih duduk dibangku kelas 1 SMA," ucap Hendri Yulianto, Senin, 14 Februari 2022.
 
Dia menambahkan bahwa penyidik berusaha mengupayakan kepentingan terbaik bagi anak, dan sejumlah pihak juga telah menjamin VD tidak akan kabur.
 
"Penyidik berusaha mengupayakan kepentingan yang terbaik bagi anak dan dari kedua orang tua serta kepala desa menjamin yang bersangkutan tidak akan melarikan diri dan siap dihadirkan apabila penyidik membutuhkan,” tutur  Hendri Yulianto.

Dia mengungkapkan, bahwa tersangka membuat konten video porno sesama jenis untuk dijual agar mendapatkan keuntungan.
 
Baca Juga: Dipaksa Foto Tanpa Busana Lalu Bersetubuh, WNA Prancis Ditangkap atas Video Porno Anak di Bawah Umur

“Tersangka ingin mendapatkan keuntungan dari penyebaran konten video porno tersebut,” ujar Hendri Yulianto.

Kasus ini bermula pada tanggal 29 Januari 2022 sekitar pukul 12.00 WIB saat Patroli Cyber Polres Banjarnegara menemukan konten sensitif berupa video porno yang berisi penyimpangan seksual atau gay yang diunggah melalui Twitter.

“Konten tersebut diketahui diunggah tanggal 28 Januari 2022 pukul 12.02 WIB dan menampilkan video cuplikan sepasang gay yang berdurasi 38 detik dengan narasi 'nyulik brondong pulang sekolah dulu buat melampiaskan kesangean fullnya join telegram ya not for free',” kata Hendri Yulianto.

Unggahan video asusila tersebut dibagi menjadi beberapa bagian, yakni dari bagian 1 sampai bagian 7.
 

Setelah itu, Polres Banjarnegara melakukan penyelidikan terhadap video tersebut dan didapatkan bahwa salah satu pelaku menggunakan seragam sekolah salah satu SMK Negeri di Banjarnegara.

“Selanjutnya dilakukan penyelidikan ke SMK Negeri dan bertemu dengan perwakilan guru, setelah petugas memperlihatkan konten video tersebut, hasil keterangan perwakilan guru, bahwa tidak kenal dengan dua orang laki-laki yang berada di dalam video tersebut dan memastikan bahwa salah satu dari dua orang laki-laki yang memakai seragam sekolah bukan siswa di sekolahnya,” tutur Hendri Yulianto.

Proses penyelidikan pun berlanjut ke salah satu SMA Negeri dan bertemu dengan perwakilan guru.
 
Setelah menunjukan konten video sensitif tersebut, salah satu guru menerangkan bahwa dia mengenali salah satu dari dua orang yang mengenakan seragam sekolah di dalam video.
 
Baca Juga: Kerja Jadi Pebalap Gajinya Kecil, Wanita Cantik ini Banting Setir Bintangi Video Porno

Petugas kemudian menginterogasi VD dan diakui dalam video sensitif tersebut yang menggunakan seragam sekolah SMK adalah dirinya.
 
Sedangkan pihak yang merekam adalah lawan mainnya J (24) yang merupakan warga Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara.

“Penyelidikan kemudian dilanjutkan ke rumah J (24), saat diinterogasi, ia mengakui bahwa dirinya merupakan orang yang berada di dalam konten video sensitif tersebut bersama VD (17) serta konten video tersebut dibuat oleh dirinya dengan menggunakan handphone miliknya,” ujar Hendri Yulianto.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka menjual video sejak bulan Januari 2022. 
 
 
Namun, konten video asusila telah dibuat sejak bulan November 2021. 
 
Pelaku mengunggah video trial atau cuplikan di media sosial, jika ada yang berminat kemudian bisa langsung menghubungi melalui chat.
 
Setelah transfer uang pembayaran link, link video asusila itu akan dikirim oleh pelaku kepada pelanggan.

“Tersangka menjual video dengan harga per member Rp 150.000,-, hasil dari penjualan video, salah satunya digunakan untuk membeli satu unit sepeda motor seharga 10 juta dari total uang yang didapat kurang lebih sekitar 17 juta,” kata Hendri Yulianto.
 
Baca Juga: Kasus Video Porno Berseragam ASN Memasuki Babak Baru

Dari pengakuan tersangka, pelaku membuat video dengan pasangan berpakaian sekolah baru pertama kali.
 
Akan tetapi, dengan pasangan yang sama sudah membuat 3 kali video, dan baru video yang ke tiga ini viral.

“Perbuatan senggama yang ketiga dilakukan pelaku pada hari Kamis tanggal 27 Januari 2022, sekira pukul 16.00 WIB di area jalan sawah wilayah Banjarnegara,” ucap Hendri Yulianto.

Dia menjelaskan bahwa alasan tersangka menggunakan seragam sekolah pada saat membuat konten video adalah untuk membuat fantasi seksual pelaku.

“Yang mana seolah-olah pelaku melakukan hubungan senggama dengan anak sekolah,” ujar Hendri Yulianto.

 
Tersangka pun mengenal pasangan melalui sebuah aplikasi yang banyak berisi komunitas kaum pecinta sejenis atau gay, sehingga dari situ mereka saling kenal.

“Perbuatan mereka didasari unsur suka sama suka,” kata Hendri Yulianto.

Sementara barang bukti yang disita adalah 3 unit handphone, 1 buah tripod dengan ring light, 1 potong hoodie hitam, 1 stel seragam SMK, 1 unit kendaraan, 1 lembar STNK dan dua akun media sosial.

Berdasarkan pemeriksaan para saksi, pemeriksaan tersangka dan barang bukti yang disita, tersangka dijerat dengan Pasal 29 Jo Pasal 4 ayat (1) dan atau Pasal 34 Jo Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan atau Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Ancaman pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 12 tahun,” tutur Hendri Yulianto.***

Editor: Nicolaus Ade Prasetyo

Sumber: Tribratanews

Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network