Senin, 6 April 2020

Indonesia Harus Terapkan Strategi Dagang yang Lebih Efektif Usai Dikeluarkan AS dari Negara Berkembang

- 27 Februari 2020, 19:05 WIB
Bendera Indonesia dan Amerika Serikat.* /ISTIMEWA

PIKIRAN RAKYAT - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Ira Aprilianti mengatakan, Indonesia perlu menerapkan strategi perdagangan yang lebih efektif pasca dikeluarkan dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat. Ia juga menambahkan, ada beberapa sektor yang tidak akan berdampak signifikan. Namun ada beberapa sektor yang harus pemerintah perhatikan.

Berdasarkan data Trademap, produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat adalah pakaian dan aksesoris pakaian (tidak dirajut dan dirajut (pakaian jadi)), dengan total nilai sebesar USD 4,504 miliar pada tahun 2018. Sedangkan Amerika Serikat hanya mampu memenuhi 3% konsumsi dari industri domestiknya.

Amerika Serikat merupakan importir pakaian terbesar di dunia dan Indonesia merupakan eksportir pakaian jadi ke-13 di Dunia pada 2018. Dalam hal ini, lanjut Ira, Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan dampak yang tidak akan terlalu signifikan karena industri pakaian Indonesia sudah cukup matang dan tidak bergantung pada subsidi pemerintah. Sehingga, pengeluaran Indonesia dari daftar pengecualian CVD tidak akan terlalu berpengaruh pada komoditas pakaian.

Baca Juga: Keberangkatan Ratusan Jamaah Umrah asal Purwakarta Terancam Mundur

Namun, akan lebih baik jika Indonesia bersiap untuk mengekspor di luar negara tujuan ekspor tradisional, seperti Australia yang sudah memiliki (Indonesia Australia-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Selain itu, industri pakaian domestik mereka sedang melemah, sehingga mereka mempunyai proporsi impor cukup tinggi dan meningkat setiap tahunnya.

“Pemerintah perlu melakukan pemetaan ulang sebagai bentuk adaptasi terhadap kebijakan Amerika Serikat ini. Industri kita harus siap melakukan efisiensi, dan jangan bergantung pada subsidi pemerintah. Jika industri kita siap tanpa subsidi, sejatinya status Indonesia sebagai negara berkembang atau tidak di CVD tidak akan memengaruhi ekspor kita,” ujar Ira, dalam keterangan tertulisnya, Kamis 27 Februari 2020.

Ia menguraikan, industri karet merupakan peringkat ke-3 dari komoditas ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dengan nilai sebesar USD 1,637 miliar. Rencana pemerintah untuk memberikan subsidi gas dan dikeluarkannya Indonesia dari de minimis dan negligible import volumes CVD ini dikhawatirkan akan membuat industri domestik Amerika Serikat memberikan petisi pada pemerintah dan mengenakan bea masuk untuk produk karet dari Indonesia. Namun, kemungkinannya juga minim, karena secara domestik Amerika Serikat tidak bisa cukup memenuhi kebutuhan karet dari produksi domestik mereka.

Baca Juga: Saudi Tangguhkan Sementara Akses Masuk untuk Cegah Corona, Menag: Keselamatan Jemaah Umrah Hal Utama

“Kalau hal ini benar-benar terjadi, Indonesia bisa mendapatkan bea masuk untuk produk karet. Untuk mengantisipasinya, subsidi sejatinya hanya harus diberikan pada infant industry karena sebenarnya itu bukan kondisi ideal untuk efisiensi produksi. Memberikan subsidi pada produk ekspor tanpa tujuan mendewasakan industri, sejatinya tidak menguntungkan kita,” jelasnya.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X