Suara Dentuman dan Gemuruh Terdengar di Lereng Gunung Slamet

- 14 Februari 2020, 14:35 WIB
Gunung Slamet.* /EVIYANTI/PR

PIKIRAN RAKYAT - Masyarakat di lereng Gunung Slamet beberapa hari terakhir kerap diresahkan dengan suara gemuruh dan dentuman yang diduga berasal dari aktivitas Gunung Slamet.

Status Gunung Slamet yang berada 5 wilayah administrasi Provinsi Jawa tengah, yaitu Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang, sejak Agustus 2019  ditingkatkan menjadi Level II atau waspada, hingga saat ini.

Dentuman tersebut terdengar hingga radius 8 kilometer (km) dari puncak gunung seperti di Desa Bumisari Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah

Baca Juga: Mocca Rilis Simple I Love You untuk Sambut Hari Kasih Sayang
 
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Purbalingga Muchsoni mengatakan, pihaknya sudah pengecekan ke lokasi. Namun bunyi gemuruh yang terdengar seperti dentuman gunung, hingga kini belum dapat dipastikan.

Dugaan sementara, bunyi berasal dari suara petir yang terjadi akhir-akhir ini. Untuk  mengantisipasi kepanikan masyarakat, pihaknya langsung mengecek ke lokasi, tapi tidak terjadi apa-apa.

Bahkan informasi dari posko Gambuhan tidak melaporkan adanya peningkatan aktivitas yang signifikan. Meski status aktivitas Gunung Slamet waspada.

Baca Juga: Tarik Kembali Ucapannya, Karen Pooroe akan Autopsi Jenazah Zefania: Saya Punya Hak untuk Tahu yang Sebenarnya

Terkait adanya dentuman dia menduga berasal dari suara gemuruh petir yang memang kerap terjadi karena saat ini sedang musim penghujan.

Berdasarkan laporan rutin yang diterima dari posko Gambuhan, peningkatan aktivitas Gunung Slamet terjadi di wilayah puncak berupa gempa hembusan.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambungan di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sudrajat ketika dikonfirmasi mengatakan, suara dentuman dan gemuruh bukan berasal dari aktifitas vulkanik Gunung Slamet.

Baca Juga: Masih Jadi Polemik, Anak-anak WNI eks ISIS Tetap Wajib Diselamatkan

"Suara gemuruh bukan barasal dari atktivitas vulkanik, namun berasal dari petir, terdengar sampai Pemalang. Petir bahkan sudah  menyebabkan kerusakan pada jaringan listrik kantor," katanya Jumat.

Diakui, status level II atau waspada sejak Agustus 2019 hingga saat ini belum dicabut atau gunung dalam kondisi tidak normal terjadi karena adanya peningkatan kegempaan, gempa hembusan.

"Semenjak awal Agustus kegempaan Gunung Slamet meningkat. Kegempaan merupakan indikator aktifitas gunung sedang tinggi, Namun peningkatan kegempaan tidak menimbulkan suara dentuman atau gemuruh seperti yang didengan masyarakat, "terangnya.

Baca Juga: Pakar Sebut Hoaks Virus Corona COVID-19 Bisa Memakan Korban Jiwa Lebih Banyak

Meski ada peningkatan status menjadi wasdapa, yang sifatnya bentuk letusan tidak terjadi di Gunung Slamet sampai hari ini. Indikator peningkatan status menjadi waspada karena baru kegempaan, parameter yang lain secara visual belum nampak.

"Selain itu frekuensi gempa hembusan sejuah ini masih bersifat fluktuatif, dalam seminggu terakhir jumlah perhari berkisar antara 350 gempa hembusan," katanya.
 
Secara visual asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas titip sedang hingga tebal dengan tinggi antara 100-200 meter dari puncak kawah. Warga masih diimbau untuk tidak melakukan kegiatan di radius 2 kilometer dari puncak.***

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X