Selasa, 31 Maret 2020

"Kerajaan" Baru Muncul Karena Masyarakat Tak Puas Kondisi Saat Ini

- 7 Februari 2020, 18:09 WIB
Hj.Siti Riti Romlah istri dari H Jajang Mubarok , Blok babakan Lebak, Desa Banyusari, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka menunjukan kepengurusan Paguyuban Tunggal Rahayu Kandang Wesi 101-010 (AMPERA) yang nantinya diberikan kepercayaan untuk membagikan harta karun kepada warga Majalengka di tokonya. Di sana juga ada sejumlah catata yang katanya wasiat, dicetak besar di tempel di dinding tembok ruangan.* / /TATI PURNAWATI/KC

PIKIRAN RAKYAT - Munculnya "kerajaan-kerajaan" beberapa waktu terakhir merupakan refleksi ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi saat ini. Sekelompok orang tersebut berharap kejayaan pada masa lampau, saat di Indonesia masih berdiri kerajaan, kembali terulang.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Pasundan yang juga ahli kesundaan Ade Priangani memperkirakan, sekelompok masyarakat pembuat kerjaan tersebut membayangkan kejayaan pada masa lampau. Mereka lalu berharap bisa kembali merasakan kejayaan seperti masa lampau. Harapan itu kemudian menjadi obsesi yang bertemu dengan catatan sejarah yang menyinggung obsesi tersebut.

Dia mencontohkan, Kesultanan Selacau Tunggul Rahayu yang muncul di Tasikmalaya. Baret yang dipakai pada sekelompok orang itu merefleksikan kerinduan terjadap rezim militer yang damai.

Baca Juga: Jangan Dulu Beranjak, Amalkan Doa Setelah Salat yang Dicontohkan Rasulullah ini

"Mereka berharap kedamaian kembali muncul," kata Ade saat diskusi fenkmena munculnya "kerajaan" baru, di Universitas Pasundan, Jalan Lengkong, Jumat 7 Februari 2020.

Banyak orang yang juga ingin menemukan kembali kejayaan Sunda, terutama zaman Pajajaran. Mereka berupaya kembali menemukan nilai-nilai pada zaman Pajajaran.

Budayawan yang juga Dosen Universitas Pasundan Etti Rochaeti menambahkan, tidak ada nama Sunda Empire dalam naskah kuno. Baik pada nama wilayah maupun keraton wilayah. Etti juga tidak menemukan nama Keraton Agung Sejagat dalam catatan naskah-naskah kuno.

Baca Juga: Buttigieg Memimpin Hasil Kaukus Iowa Sindir Donald Trump sebagai 'Pengusaha yang Jadi Penguasa'

Menurut Etti, munculnya "kerajaan-kerajaan" merupakan dampak dari semakin tenggelamnya sumber sejarah lokal. Oleh karena itu, perlu disusun kembali catatan sejarah tatar sunda yang akurat sebagai referensi masyarakat. Selain itu, Etti juga menyarankan agar sejarah lokal dimasukkan ke dalam kurikulim sekolah dasar dan menengah agar masyarakat melek sejarah lokal.

"Lembaga pendidikan yang berlabel kesundaan juga wajib memberikan materi sejarah tatar sunda," ujar Etti. Dia juga menganggap orang-orang yang mendirikan "kerajaan" saat ini adalah mereka yang lagi dianggap oleh masyarakat dan ingin kembali diakui eksistenya.

Dosen FISIP Universitas Pasundan Ridlo Eisy menuturkan, meski bagi sebagian orang, munculnya "kerajaan-kerajaan" adalah sebuah hal yang lucu, tetapi hal itu tetap perlu diwaspadai. Khususnya terhadap niat dibalik pendirian "kerjaan-kerajaan". Jangan sampai, niat para pendiri "kerajaan" tersebut untuk menghancurkan kesatuan Indonesia.

Baca Juga: Iran Segera Ungkap Informasi Terbaru Serangan Rudal ke Pangkalan Militer AS di Irak

Ridlo menilai, munculnya "kerajaan-kerjaan" baru di Indonesia bisa mengganggu rasa persatuan Indonesia. Bahkan jika menyinggung masalah suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), akan berdampak berat bagi persatuan Indonesia.

"Terpenting, gagasan-gagasan pemikiran yang menuju disintegrasi bangsa, perlu dipikirkan lagi," ujar Ridlo.

Ridlo mengingatkan pada 2015, pernah muncul Negara Rakyat Nusantara (NRN) yang mendapat perhatian serius. Niat NRN ingin meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menggantinya dengan NRN. Selain itu, NRN juga ingin memecah belah kesatuan Indonesia. Munculnya kembali NRN dan sejenisnya perlu diantisipasi agar tak meresahkan kesatuan Indonesia.***

loading...


Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X