Selasa, 7 April 2020

Dibandingkan Ebola dan SARS, LIPI Sebut Virus Corona Miliki Laju Mutasi yang Lebih Cepat

- 28 Januari 2020, 18:39 WIB
PETA persebaran virus corona di wilayah Tiongkok. /DOK. CSSE JHU

PIKIRAN RAKYAT - Virus corona memiliki laju mutasi yang lebih cepat dibandingkan dengan jenis virus yang lain seperti double stranded DNA (dsDNA) virus.

Dengan demikian, kemunculan kejadian luar biasa berlangsung cepat dan tidak terduga. Penyebaran secara global pun dapat terjadi dengan mudah dikarenakan mobilitas manusia yang tinggi.

Peneliti bidang mikrobiologi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugiyono Saputra mengatakan, penelitian menunjukkan jenis virus corona yang bersifat mematikan terhadap manusia berasal dari kelelawar yang berperan sebagai perantara alaminya.

Baca Juga: Ratusan WNI Terjebak di Karantina Imbas Virus Corona, Pemerintah Indonesia Didesak Segera Evakuasi

Meski demikian, kemungkinan interaksi langsung antara kelelawar dengan manusia sangatlah jarang. 

“Tetapi virus tersebut dapat pula menginfeksi hewan lainnya sebagai perantara, dan hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia,” ujar Sugiyono berdasarkan rilis yang diterima "PR" dari Humas LIPI, Selasa 28 Januari 2020.

Pada kasus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau infeksi saluran pernapasan berat, hewan perantaranya adalah mamalia kecil seperti kelelawar, musang, dan rakun. Pada kasus MERS (Middle East Respiratory Syndrome coronavirus) atau infeksi virus pada paru-paru karena coronavirus, hewan perantaranya adalah unta.

Baca Juga: Selalu Dituding Settingan Terkait Hubungannya dengan Aurel Hermansyah, Atta Halilintar: Kita Bukan Drama

Sementara pada kasus terbaru, material genetik dari virus corona wuhan yang dilambangkan 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular.

Menurut Sugiyono, hipotesis tersebut diangkat berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan pada Journal of Medical Virology.

“Rekombinasi yang dimaksud adalah gabungan antara bagian selubung virus dari coronavirus asal kelelawar yang dikenal dapat menginfeksi manusia dan dari material genetik coronavirus yang berasal dari ular,” jelas Sugiyono.

Baca Juga: Virus Corona Tengah Diwaspadai, Disnakertrans Purwakarta Klaim TKA Asal Tiongkok Bukan dari Wuhan

Spesies ular yang dimaksud, lanjut Sugiono, adalah Bungarus multicinctus atau the many-banded krait dan Naja atra atau the Chinese cobra. Selubung virus atau viral spike merupakan bagian yang akan menempel atau menginfeksi sel inangnya jika memiliki reseptor yang sesuai.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X
x