Harga Beras Nasional Konsisten Lebih Tinggi Dibanding Beras Internasional

- 26 Januari 2020, 19:34 WIB
BULOG Yogyakarta menjamin ketersediaan beras di bulan puasa.*/DOK. KABAR BANTEN /null

PIKIRAN RAKYAT - Harga beras nasional secara konsisten selalu lebih tinggi daripada beras internasional. Hal ini menyebabkan konsumen harus membayar lebih mahal.

Data BPS 2019 menunjukkan, beras dikonsumsi sebanyak 270 juta jiwa di Indonesia dengan rata-rata tingkat konsumsi sebesar 96,3 kilogram per kapita setiap tahunnya.

Jumlah tersebut pada akhirnya menjadikan Indonesia sebagai konsumen beras terbesar di dunia. Tingginya harga beras nasional, salah satunya, disebabkan oleh penerapan kebijakan non tariff measures (NTM) atau kebijakan non tarif dalam tata niaganya.

Baca Juga: Pembalap Reli Dakar Meninggal akibat Kecelakaan, Kali Kedua dalam Ajang Tahun 2020

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, mayoritas beras yang dikonsumsi rakyat Indonesia berasal dari produksi domestik. Namun Indonesia juga termasuk ke dalam negara-negara importir beras.

loading...

Berdasarkan data BPS 2019, Indonesia mengimpor sebanyak 35% beras dari Thailand dan 34% dari Vietnam di 2018.

Felippa menuturkan, berdasarkan data United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) 2019, terdapat 54 kebijakan NTM atau non tarif yang dikenakan pada beras.

Baca Juga: Usai Jambi, Kini Pasien yang DIduga Terjangkit Virus Corona Dirawat di Sorong

Salah satunya adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 01 Tahun 2018 yang menyatakan bahwa beras hanya dapat diimpor oleh Bulog (badan usaha milik negara untuk logistik nasional) setelah menerima otorisasi resmi dari Kementerian Perdagangan.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X