Rabu, 19 Februari 2020

Indonesia Harus Naik Kelas Seperti Jepang, Menristek: Ada Syaratnya

- 24 Januari 2020, 15:44 WIB
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menghadiri Dies Natalis Universitas Parahyangan ke-65 di Kampus Pascasarjana Unpar, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jumat 24 Januari 2020. Kementerian Riset dan Teknologi dibawah kepemimpinan Bambang Brodjonegoro akan fokus pada pengembangan riset yang mendukung kemajuan ekonomi berbasis inovasi.* / RANI UMMI FADILA/"PR"

PIKIRAN RAKYAT - Indonesia harus leluar dari zona nyaman untuk naik kelas menjadi bangsa berpenghasilan menengah keatas. Caranya dengan tidak lagi mengandalkan sumber daya alam sebagai pemasukan negara, tetapi mulai bertumpu pada penciptaan inovasi-inovasi, seperti yang dilakukan Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.

Hal itu dikemukakan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Masyarakat Indonesia, menurut Bambang, masih terlena dengan kekayaan sumber daya alam dan menganggap sumber daya alam yang akan menjadi ciri kemajuan Indonesia masa depan. Padahal, jika melihat negara-negara maju saat ini, seperti Tiongkok, bukan sumber daya alamnya yang membuat negara tersebut maju, tetapi inovasinya.

Baca Juga: 3 Pasar Loak yang Diminati Orang Jerman di Berlin

Begitu juga Korea Selatan dan China yang menjadi negara maju berkat inovasi masyarakatnya. Contohnya Korea Selatan membuat telepon pintar yang dipakai banyak orang di seluruh negara dan Jepang kini dengan industri otomotif dan kini dengan pakaiannya.

Indonesia juga harus bertransformasi dari semula mengandalkan sumber daya alam, berubah menjadi bangsa yang bertumpu pada inovasi untuk memajukan ekonomi.

"Tanpa keluar dari zone nyaman dengan mengandalkan sumber daya alam, Indonesia akan jadi negara lower income terus," kata Bambang saat acara Dies Natalis Universitas Katolik Parahyangan ke-65 di Kampus Pascasarjana Unpar, Jalan Merdeka, Jumat 24 Januari 2020.

Baca Juga: Antisipasi Perkembangan Alutsista, Jokowi Tegaskan Penguatan Penguasaan Teknologi Pertahanan

Dengan inovasi, nilai jual sumber daya alam Indonesia pun akan bertambah. Bambang mengatakan, Indonesia jangan terus-menerus sekadar mengeskpor bahan mentah, seperti biji cokelat dan nikel mentah.

Tetapi harus mulai memberikan inovasi pada bahan mentah itu sehingga bernilai jual lebih tinggi. Misalnya, mengolah nikel menjadi batrai mobil listrik. Inovasi itu yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi.

Peneliti pun harus berperan pada penciptaan nilai tambah suatu produk. Contohlah Jepang yang mendapat penghasilan besar dari menjual suatu merek pakaian, padahal di Jepang tidak terdapat pabrik tekstil. Jepang lebih berfokus pada proses mendesain pakaian tersebut yang nilai jualnya lebih tinggi.

Baca Juga: Santri Laporkan Oknum Pengajar Atas Dugaan Penganiayaan ke Polres Cimahi

Kementerian Riset dan Teknologi dibawah kepimpinan Bambang Brodjonegoro pun akan fokus pada pengembangan riset-riset yang mendukung kemajuan ekonomi berbasis inovasi. Bukan lagi riset yang mendukung kemajuan ekonomi berbasis sumber daya alam.

Riset juga harus berperan dalam memberikan nilai tambah pada sektor hilir produksi. Selain itu, syarat riset yang bisa didanai Kementerian Riset dan Teknologi yakni bisa berguna bagi masyarakat. Ada lima produk yang akan fokus dikembangkan sebagai tumpuan ekonomi Indoneska, yakni makanan dan minuman, produk gaya hidup, bahan kimia, tekstil dan elektronik.

Dengan begitu, Bambang berharap, Indonesia bisa menjadi negara yang inovatif. Contohlah Korea Selatan yang dulu hanya mampu membuat barang-barang imitasi buatan Jepang, sekarang sudah mampu membuat barang inovatif. Masyarakat Indonesia pun diharapkan tidak selama-lamanya hanya mampu mengimitasi produk luar negeri, tetapi bisa menciptakan inovasi produkya sendiri.***


Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X