Sabtu, 22 Februari 2020

Sidang Mantan Dirut Garuda Indonesia, Emirsyah Satar Memaksa Dipilihnya Pesawat Bombardier CRJ 1000

- 24 Januari 2020, 11:22 WIB
MANTAN Direktur Utama Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Emirsyah Satar menjalani sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin, 30 Desember 2019. Emirsyah Satar menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan terkait kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada Garuda Indonesia.*/ANTARA FOTO /

PIKIRAN RAKYAT - Selama kepemimpinan Emirsyah Satar, pelaksanaan program pengadaan pesawat dan perawatan mesin di Garuda Indonesia tidak pernah ada intervensi dan favoritisme untuk memilih atau memenangkan pihak tertentu.

Semua pengadaan prosesnya berjalan normal melalui kajian tim dan rapat direksi dimana putusan diambil direksi berdasarkan usulan tim, tanpa ada intervensi atau paksaan.

Demikian garis besar keterangan para saksi pada sidang keempat mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, seperti dalam siaran pers, Jumat 25 Januari 2020.

Baca Juga: Putuskan Mundur dari Lyla, Naga Ceritakan Kenangannya Berkarier Bersama 13 Tahun

Para saksi itu Handrito Hardjono, mantan Direktur Keuangan Agus Priyanto, mantan Direktur Komersial Rajendra kartawiria, mantan VP CEO Office, dan manager accounting Garuda Norma Aulia.

Emirsyah Satar antara lain didakwa memaksakan agar pesawat Bombardier CRJ 1000 yang dipilih, meski pesawat Embraer E190 lebih unggul.

Hal tersebut tidak benar mengingat seluruh proses pengadaan pesawat dilakukan dengan mengikuti usulan tim pengadaan yang beranggotakan staf dari berbagai unit, dan keputusan yang diambil dilakukan secara kolegial oleh seluruh direksi. 

Baca Juga: Indonesia Impor 1.015 Kontainer Sampah dari Luar Negeri Termasuk Amerika Serikat

Bahkan, berkaitan dengan perhitungan dan kinerja terhadap usulan tim yang berubah-ubah, Emirsyah Satar telah memerintahkan unit Audit Internal untuk melakukan audit. Faktanya pemilihan Pesawat Bombardier CRJ 1000 merupakan usulan Tim dan pesawat tersebut harga per unitnya lebih murah US$ 3 Juta daripada pesawat Embraer E190.

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X