Selasa, 25 Februari 2020

Khotbah Jumat Diatur demi Toleransi, Kemenag Didorong Dialog dengan Masjid yang Diduga Radikal

- 22 Januari 2020, 17:07 WIB
ILUSTRASI, Kementerian Agama akan menentukan isi khotbah Jumat di masjid-masjid.* /RIRIN NF/PR

PIKIRAN RAKYAT – Kementerian Agama berencana menyiapkan teks khotbah Jumat bagi tiap-tiap masjid.

Alasan diaturnya materi khotbah Jumat, demi menjaga rambu-rambu toleransi agar bisa terciptanya kerukunan umat beragama.

‎Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Bandung, Yusuf Umar sempat menjelaskan, kebijakan ini sebenarnya sudah diterapkan di Abu Dhabi di Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Selalu Dipandang Miliki Tubuh Ideal oleh Warganet, Tara Basro: Happy

Hal ini ditanggapi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Azyumardi Azra, yang mempertanyakan untuk apa isi khotbah Jumat diatur

Wakil Ketua Wantim MUI mengatakan bahwa kebijakan semacam itu justru akan kontraproduktif.

"Untuk apa...? Kementerian Agama kan memiliki penyuluh agama," katanya di sela Rapat Pleno ke-48 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia di Jakarta, Rabu, 22 Januari 2020.

Baca Juga: Sering Dengar Sengketa Lahan di Desa, Jokowi Serahkan 2.500 Sertifikat Hak Atas Tanah untuk Rakyat di NTT

Dikutip Pikiran-rakyat.com dari Antara, ia mengatakan, Kementerian Agama bisa memberdayakan penyuluh agama untuk mendatangi dan berdialog dengan pengurus dan jemaah masjid yang dinilai radikal.

Menurut dia, penanganan masalah semacam itu harus dilakukan per kasus, bukan dengan menerapkan pengaturan isi khotbah.

Mengingat sebagian besar khatib dan penceramah di Indonesia memiliki latar belakang moderat dan isi ceramahnya damai.

Baca Juga: Terapkan Fingerprint untuk Absensi Guru dan Siswa, Disdikbud Cianjur Optimistis Berantas Kecurangan

"Satu dua saja yang 'keras-keras', jadi jangan hanya karena ada kasus seperti itu dibikin kebijakan. Jadi saya kira negara tidak punya kapasitas, tidak punya kemampuan untuk melakukan itu," kata dia.

"Caranya bukan dengan menyeragamkan khutbah, lakukan lah lokakarya kebangsaan, ke-Islaman kebangsaan, itu yang harus dilakukan. Panggil semua ustadz-ustadz, kumpul-kumpul sambil makan-makan, bikin suasana yang enak, diskusi mengenai kebangsaan, hubul wathan minal iman itu yang harus dilakukan," katanya.***

Halaman:

Editor: Gita Pratiwi

Sumber: Antara

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X