Pantas Saja Banjir Sering Terjadi, Ribuan Sungai di Indonesia dalam Kondisi Kritis

- 22 Januari 2020, 07:10 WIB
ADA cerita unik soal banjir kemarin. Ada beberapa anak yang justru memanfaatkan debit air sungai sebagai wahana permainan layaknya waterboom./ /

PIKIRAN RAKYAT - Setidaknya 7.900 sungai di Indonesia dalam kondisi kritis. Kondisinya saat ini, dari sekitar semua mendekati kondisi kritis, baik secara kualitas, kuantitas maupun kontinyuitas.

"Secara kualitas kondisi sungai tambah buruk. Secara kuantitas, sungai susah dikendalikan, saat musim hujan banjir, sebaliknya saat kemarau kering. Begitu juga secara kontinyuitas, saat hujan debit tinggi sebaliknya saat kemarau, sungai pun berubah menjadi lapangan bola," ungkap 

Direktur Sungai dan Pantai, Ditjen Sumber Daya Air Kementrian PUPR, Jarot Widyoko, saat sosialissi Preparation Of Cimanuk-Cisanggarung River Basin Flood Management Project in West Java Province and Centra Java Province di Cirebon, Selasa 21 Januari 2020.

Baca Juga: PON Papua 2020 Dijamin Aman, Gubernur: Kami Sama Seperti Jakarta, Sumatera dan Jawa

Akibatnya, katanya, bencana banjir hampir setiap hari menghiasi berita dan kabar di media. Kapasitas atau daya tampung air yang semakin berkurang akibat pendangkalan yang berkurangnya lebar sungai menyebabkan air yang tidak tertampung oleh sungai meluap.

Dulu sebanyak 80 persen air hujan masuk ke dalam tanah dan hanya 20 persen yang run off, sementara saat ini komposisinya terbalik 80 persen run off dan hanya 20 persen yang masuk dalam tanah.

Sehingga penanganan banjir harus komprehensif dari hulu sampai hilir, struktural dan nonstruktural.

Baca Juga: Praperadilan Eks Sekretaris MA Ditolak, KPK Ingatkan Nurhadi Kooperatif

"Misalnya upaya normalisasi sungai tanpa ditunjang upaya lain yang saling mendukung, ya hanya bersifat sementara dalam menanggulangi banjir," katanya.

Menurutnya, sejumlah kondisi lain ikut memperparah situasinya. Diantaranya penurunan muka tanah setiap tahun terjadi 7-10 cm terutama di sepanjang pantai utara, sementara dengan fenomena suhu global yang terus meningkat telah mengakibatkan es di Antartika mencair, sehingga tinggi muka air setiap tahun naik.

"Sedimentasi parah akibat perubahan penggunaan atau fungsi lahan ikut memperparah kondisi sungai," katanya.

Baca Juga: Demi Medali Olimpiade 2032, ISSI Gandeng Konsultan Asing

Menurutnya, upaya bersama semua pihak, termasuk masyarakat dibutuhkan untuk bisa mencegah terjadinya banjir.

"Upaya pengendalian banjir tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri oleh pemerintah pusat maupun daerah. Harus sinergi antara pemerintah pusat dengan daerah maupun antarpemerintah daerah," katanya.

Untuk itu, ia meminta pemda di delapan kota dan kabupaten yang dilewati aliran Sungai Cimanuk-Cisanggarung untuk memanfaatkan betul-betul program penanggulangan banjir, yang didanai dari loan ADB.

Baca Juga: Film Guru-Guru Gokil Rilis Teaser Trailer, Gading Marten Perankan Guru Kocak

Saat ini, program penanggulangan banjir masih dalam tahap persiapan oleh konsorsium sejumlah perusahaan konsultan, termasuk konsultan dari Taiwan dan India.

Selama 18 bulan kerja yang dimulai 11 November 2019,  konsultan akan menyusun master plan managemen resiko banjir, survei dan investigasi, survei perlindungan dampak sosial dan ekonomi, survei perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, detailed engineering design (DED), studi zona sempadan sungai, membuat gambar perencanaan dan konstruksi sampai menyiapkan dokumen lelang.

Menurutnya, saran, masukan dan informasi sebanyak-banyaknya dari pemda kepada konsultan, diperlukan agar konsultan juga bisa menuangkan solusi penanggulangan banjir sesuai kebutuhan daerah dan faktual.***

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X