Minggu, 23 Februari 2020

Puluhan Desa di Yogyakarta Berisiko Terkena Hantaman Tsunami

- 21 Januari 2020, 08:53 WIB
ILUSTRASI TSUNAMI ACEH. Ini adalah kisah Wittaya Tantawanich, seorang pekerja darurat di Pantai Barat Phuket, Thailand, saat tsunami Aceh menerjang./ /Reuters

PIKIRAN RAKYAT - Sedikitnya 45 desa di Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berisiko dihantam tsunami.

Pasalnya, pesisir pantai pada puluhan desa tersebut kian serius terkena abrasi. Mangrove yang ditanam untuk menjadi penghalang tsunami pun sulit tumbuh karena sampah.

Ribuan bibit bakau yang telah ditanam di Desa Jangkaran, Kecamatan Temon dan Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur mati karena polusi. Dari dua bibit yang ditanam, hanya satu yang akan tumbuh menjadi pohon.

Baca Juga: Hakim Tolak Eksepsi Trio Ikan Asin, Ketiga Tersangka Siap Bertemu Fairuz A Rafiq

“Dari 1.000 bibit, mungkin hanya sekitar 50% sampai 70% yang tetap bertahan hidup,” kata Septian Wijayanto, pengelola Hutan Mangrove Pantai Pasir Kadilangu, Jangkaran Senin 20 Januari 2020.

Septian mengatakan, Bibit bakau mudah mati dan kesulitan tumbuh gara-gara serbuan sampah dan limbah rumah tangga kiriman dari Sungai Bogowonto. Akibatnya, di area sepanjang 1,5 kilometer, ketebalan hutan bakau yang bentuknya laksana sabuk hanya 15 meter sampai 30 meter.

“Sekarang sudah lebih baik setelah warga berinisiatif melindungi bibit bakau dengan pagar bambu, sudah lebih terlindungi,” ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pikiran Rakyat (@pikiranrakyat) on

 



Menurut Septian, hutan bakau dengan luas total sekitar 40.000 meter persegi di Jangkaran masih memerlukan perhatian dari peneliti dan instansi yang mempunyai pengetahuan mendalam.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Paguyuban Laguna Pantai Trisik Edy Wiyanto mengungkapkan laguna yang sedang dikembangkan sebagai ekowisata mangrove tak berkembang sesuai rencana karena bibit bakau mati akibat limbah industri, sampah, dan dimamah hewan ternak warga.

“Kesadaran warga akan mangrove masih rendah. Sehingga harapan hidup masih kecil, kami butuh bantuan,” tuturnya.

Baca Juga: Tanggapi Polemik Asuransi Jiwasraya, Demokrat: Kejahatan yang Terstruktur, Masif, dan Sistematis

Setelah disapu banjir besar akibat Siklon Tropis Cempaka pada akhir November 2017, lima hektare lahan yang ditanami bibit mangrove di Pantai Baros, Desa Tirtoharjo, Kretek, belum pulih seperti sedia kala. Area konservasi sekarang berubah menjadi aliran sungai.

Dwi Ratmanto, Ketua Divisi Konservasi Keluarga Pemuda-Pemudi Baros, mengatakan pemulihan pascabencana Badai Cempaka belum berjalan maksimal. Aktivis konservasi baru bisa membersihkan bekas lahan konservasi dari sampah.

“Penanaman kembali bibir mangrove masih dalam skala kecil. Kami baru menanam ratusan bibit di lahan lima hektare yang rusak,” katanya.

Baca Juga: Usai Ikuti Asia Challenge, Robert Alberts Ingin Bawa Persib Bandung ke Level AFC

Menurutnya, pemulihan area konservasi bakau di Pantai Baros sukar lantaran tanaman pelindung seperti cemara belum ditanam ulang.  

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X