Volume Beras Jauh di Bawah Target, Pengusaha Penggiling Padi Bersaing Ketat Pertahankan Usahanya

- 12 Januari 2020, 15:32 WIB
BERAS di Gudang Bulog.* /DOK. PR

PIKIRAN RAKYAT - Permintaan akan beras yang terus meningkat memaksa para pengusaha penggilingan padi untuk terus bersaing ketat dalam mempertahankan usahanya. Hal ini dikarenakan kapasitas mesin yang banyak tersedia di proses penggilingan sering kali tidak sebanding dengan volume beras yang jauh berada di bawah target.

Salah satu penyebab ketimpangan ini adalah simpang siurnya data produksi beras. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, kondisi yang ada saat ini membuktikan adanya simpang siur informasi di pasar padi.

"Kalau para penggiling padi mengetahui bahwa jumlah padi yang akan digiling, tentu akan ada kalkulasi untuk mencegah kerugian. Keadaan ini sangat mungkin terjadi akibat dari miskalkulasi data yang telah terjadi selama beberapa waktu. Kalau dibiarkan terjadi terus menerus, tidak menutup kemungkinan pelaku usaha penggilingan padi akan mengalami kerugian," kata Galuh, dalam keterangan tertulisnya, yang "PR" terima, Minggu 12 Januari 2020.

Baca Juga: Liverpool Kian Sulit Dibendung di Liga Inggris, Jose Mourino: Sepak Bola Terkadang Kejam

Menurut dia, penyebab ketimpangan lainnya adalah rendahya pasokan beras ke penggilingan pada disebabkan oleh beberapa hal, seperti musim kemarau di 2019 yang menyebabkan mundurnya masa tanam, keterbatasan produksi padi di awal tahun yang merupakan imbas dari musim penghujan dan juga naiknya harga gabah di tingkat petani.

Walaupun naiknya harga gabah dianggap sebagai proses yang wajar dihadapi usaha penggilingan padi, hal ini tentu tidak baik jika terus terjadi dan berulang.

“Kondisi seperti ini berpotensi menyebabkan harga tinggi. Akan banyak usaha penggilingan padi, terutama penggilingan berskala kecil, yang dapat gulung tikar dikarenakan terbatasnya modal dan tidak mampu bersaing dengan pengusaha lain dengan mesin penggilingan yang lebih besar. Rendahnya hasil panen dimanfaatkan oleh petani untuk menaikkan harga gabah di tengah volume permintaan yang tetap atau cenderung naik,” ujarnya.

Baca Juga: Polemik GBLA Terus Berlanjut, Pemkot Bandung Didesak Transparan Lantaran Ada Uang Bobotoh

Per Desember 2019, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, tren harga gabah kering panen mengalami kenaikan ke angka Rp5.313 per kilogram dari bulan sebelumnya yang berada di level Rp5.203 per kilogram.

Oleh karena itu, sedari awal masa tanam, harus dipastikan pasokan padi dapat menghasilkan peningkatan volume pasokan beras pada saat panen. Hal ini tentunya juga harus memperhatikan faktor cuaca dikarenakan adanya indikasi hasil gabah yang akan turun akibat masa tanam dan panen yang mundur akibat tidak tentunya cuaca di Indonesia.

Selain itu, para pengusaha penggilingan padi juga harus terus berupaya untuk dapat beroperasi secara maksimal.

loading...

Baca Juga: Persib Harap-harap Cemas, Terancam Tak Punya Kandang dan Bisa Terusir Jelang Liga 1 2020

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan bekerja sama dengan petani dalam hal harga dan kuantitas gabah yang akan diperjualbelikan. Perbaikan kapasitas mesin juga dapat dilakukan untuk mengantisipasi tingginya persaingan untuk memperoleh gabah berkualitas baik.

"Pemerintah dapat membantu memberikan intervensi kebijakan untuk memindahkan pelaku ke pekerjaan lain yang justru masih membutuhkan kontribusi tenaga kerja tambahan atau mempermudah informasi mengenai kebutuhan pekerjaan. Alternatif ini tentu saja juga perlu diiringi dengan pelatihan di Balai Latihan Kerja," tutur dia.*** 

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X