Sabtu, 25 Januari 2020

Kebijakan Perdagangan Indonesia Perlu Lebih Terbuka

- 19 Desember 2019, 19:08 WIB
PEKERJA melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bongkar Muat Tanjung Priok milik Pelindo II, Jakarta, Kamis, 28 November 2019.*/ANTARA FOTO /

PIKIRAN RAKYAT - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, Indonesia perlu menyesuaikan kebijakan perdagangannya menjadi lebih terbuka atau ‘open’ dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks di masa mendatang.

Kompleksitas ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah karena kebijakan perdagangan yang dijalankan oleh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Galuh menjelaskan, dalam beberapa tahun belakangan kebijakan perdagangan Indonesia cenderung semakin proteksionis atau semakin tidak terbuka.

Baca Juga: Libur Natal dan Tahun Baru, Kebutuhan Uang Tunai Naik 5 Persen

Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, Indonesia cenderung kurang termotivasi untuk membuka hambatan dalam perdagangan internasionalnya.

Proteksi dan hambatan non tarif yang diterapkan dalam kebijakan perdagangan ini tercermin dalam peringkat Indonesia di International Trade Barrier Index yang dirilis Property Rights Alliance yang baru dirilis.

Indonesia berada di posisi 72 dari 86 negara. Di antara negara-negara ASEAN, Singapura menduduki peringkat pertama dalam indeks ini.

Indonesia bahkan kalah dari Malaysia dan Vietnam yang duduk di peringkat 55 dan 67.

Namun Indonesia masih lebih baik dari Filipina dan Thailand yang berada di peringkat 78 dan 83.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Artikel Terkait

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X