PBB Klaim Kampanye 16 Hari Lawan Kekerasan Gender Berhasil

- 9 Desember 2019, 21:47 WIB
HAK asasi manusia.*
HAK asasi manusia.* /UNIVERSITY OF YORK

JAKARTA, (PR).- Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaran Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) mengatakan kampanye 16 hari perang melawan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan telah menuai keberhasilan.

Gerakan itu menjadi pesan bersama yang disuarakan banyak kalangan baik secara langsung dalam forum-forum terbuka maupun lewat media sosial, kata Spesialis Manajemen Program UN Women, Lily Puspasari di Jakarta, Senin 9 Desember 2019.

Bagi Lily, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk ikut menyuarakan pentingnya melawan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan menjadi salah satu pencapaian dari kampanye 16 hari yang telah agenda tahunan PBB serta komunitas internasional tiap 25 November sampai 10 Desember.

Baca Juga: Arab Saudi Akhiri Pemisahan Gender di Tempat Umum

"Kampanye 16 hari kalau saya lihat dan cermati sudah banyak disuarakan yang mulanya ini tidak terlalu banyak dan masih kurang familiar, sekarang tidak harus dari kelompok yang biasa (misalnya aktivis), tetapi kampanye 16 hari sudah disuarakan banyak kelompok misalnya grup-grup berbasis agama, ataupun mereka yang awalnya takut bersuara di sosial media. Buat saya ini salah satu perkembangan (keberhasilan) karena kampanye ini jadi message (pesan, red) bersama," kata Lily dalam acara bertajuk "Generation Equality" di Pusat Kebudayaan Prancis, Jakarta seperti dilaporkan Antara

Gerakan 16 Hari Aktivisme Perang Melawan Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (the 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence against women) merupakan kampanye global yang dimulai oleh sejumlah aktivis di berbagai negara pada 1991 pada 25 November (Hari Antikekerasan terhadap Perempuan Internasional) sampai 10 Desember (Hari Hak Asasi Manusia Dunia).

Baca Juga: FFI 2019, Soal Gender Hingga Kekerasan Seks Mewarnai Raihan Piala Citra

Kampanye yang telah melibatkan kurang lebih 6.000 organisasi dari 187 negara juga memperingati beberapa hari penting, di antaranya 29 November (Hari Pegiat HAM Perempuan Dunia), 1 Desember (Hari AIDS Dunia), dan 6 Desember (Peringatan Pembantaian di Montreal).

Walau demikian, ia juga menyebut keberhasilan kampanye perang melawan kekerasan terhadap perempuan juga diikuti oleh narasi tandingan oleh beberapa kelompok masyarakat yang mengatasnamakan pembela tradisi atau ajaran agama tertentu.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X