Wacana Revisi Materi Khilafah dan Jihad Dianggap Tidak Perlu

- 9 Desember 2019, 17:07 WIB
FOTO ilustrasi anak-anak mengaji.*/ANTARA /null

JAKARTA (PR)- Komisi VIII DPR RI menilai wacana Kementerian Agama merevisi konten-konten ajaran berisi khilafah dan jihad dalam pelajaran agama Islam di madrasah tidaklah perlu.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Fraksi Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menilai khilafah merupakan bagian dari sejarah khazanah produk sejarah dalam Islam.

Sementara jihad juga bagian dari doktrin dari ajaran Islam yang penting untuk dipelajari dan dimaknai secara komprehensif.

Baca Juga: Pelaku Pembobolan ATM Diduga Masih Amatiran, yang Diambil Uang Rusak

"Secara fiqh siyasi, khilafah itu merupakan bagian dari khazanah pemikiran politik Islam yang pernah diterapkan dalam sejarah Islam. Khilafah itu merupakan produk sejarah dalam Islam yang jejak-jejak peradabannya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kita tidak boleh menghapus fakta sejarah itu," kata Ace di Kompleks Parlemen Senayan, Senin 9 Desember 2019.

Menurut Ace, anak didik juga perlu tahu tentang bagaimana sejarah kekhalifahan Ustmaniyah, kekhalifahan Abbasiyah hingga kekhalifahan Turki Utsmani yang terakhir di Turki.

Ini fakta sejarah yang harus tetap disampaikan kepada peserta didik dan menjadi bagian dari sejarah Islam. Oleh karena itu Ace menilai pendidikannya tidaklah bermasalah.

Baca Juga: Jokowi: Pendidikan Antikorupsi Harus Ditumbuhkan Sejak Dini

"Penerapan konsep khilafah lah yang saat ini jelas tidak tepat dan tidak mungkin diterapkan dalam sistem negara-bangsa saat ini karena kita sudah menyepakati sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai kesepakatan dengan Pancasila sebagai dasar negara," katanya.

"Argumen ini yang seharusnya ditanamkan kepada para anak didik agar mereka memahami tentang pentingnya memperkuat nilai-nilai kebangsaan sebagai pilihan bernegara kita. Jadi bukan dengan menghapus materinya tapi mendeskripsikan argumen sejarah, filosofi dan implementasi keharusan kita menerapkan konsep negara bangsa NKRI saat ini," ucap dia.

Mempelajari Bukan Berarti Mengikuti

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X