Minggu, 8 Desember 2019

Masuk Musim Hujan, 2.335 Kepala Keluarga Terancam Longsor

- 28 Oktober 2019, 14:41 WIB
ILUSTRASI bencana alam longsor.*/DOK. PR

BANTUL, (PR).- Bencana tanah longsor masih menjadi ancaman bagi ribuan  warga di Kabupaten Bantul. Khususnya bagi warga yang berada di daerah rawan bencana yang selama ini disebut dalam zona merah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul Dwi Daryanto mengungkapkan, sekitar 2.335 kepala keluarga (KK) yang masuk ke dalam zona merah bahaya tanah longsor ini.

BPBD sudah mengimbau kepada masyarakat di wilayah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan. Terlebih lagi dalam beberapa bulan ke depan akan memasuki musim penghujan.”Mereka tinggal tersebar di Kecamatan Piyungan, Dlingo, Imogiri, Pleret, dan Pundong,” katanya di Bantul, Minggu 27 Oktober 2019.

Menurut Dwi, potensi longsor usai musim kemarau panjang ini juga akan semakin besar. Mengingat beberapa wilayah juga mengalami rekahan tanah. BMKG memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada Januari hingga Februari 2020 mendatang.
“Adanya rekahan tanah, akan menjadi pintu masuk air hujan kedalam tanah. Kondisi itu membuat ikatan tanah semakin lemah dan potensi longsor semakin tinggi,” ujarnya.

Ia mengimbau agar masyarakat untuk waspada ini, juga menyusul karena masih sedikitnya alat pendeteksi longsor atau early warning system (EWS). Pasalnya, saat ini Kabupaten Bantul hanya memiliki 10 alat pendeteksi. Padahal, seharusnya terpasang di 100 titik.

Selain itu, kata dia, alat yang dimiliki pun juga masih belum menggunakan teknologi canggih. Dwi mengatakan, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama pengadaan alat pendeteksi tersebut.

Lebih lanjut Dwi mengatakan, selain longsor pada musim hujan nanti, bencana yang harus diwaspadai adalah banjir. Hal itu, mengingat Bantul merupakan wilayah yang dilalui tiga sungai besar. 

Sementara itu, Sementara itu, berdasarkan data Staklim BMKG Yogyakarta, awal musim hujan di wilayah DIY diperkirakan mundur hingga 2 dasarian. Dua dasarian berarti menandakan awal musim hujan akan mundur selama 10 hingga 20 hari. Hal itu akan dirasakan secara merata di seluruh DIY. "Sedangkan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan Januari - Februari 2020," tuturnya.

Berdasarkan data pertengahan Oktober 2019 ini, secara keseluruhan, wilayah DIY yang terdampak kekeringan berada di empat kabupaten meliputi 39 kecamatan di 111 desa. Khusus untuk lahan pertanian ada di 26 kecamatan dengan luasan 6.208,5 hektare.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X