Minggu, 23 Februari 2020

Media Sosial Sarana Ampuh Sebarkan Berita Bohong

- 18 Oktober 2019, 11:02 WIB
ILUSTRASI cuitan hoax.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Dalam sejumlah kajian yang dilakukan, media sosial menjadi salah satu sarana untuk menyebarkan kabar bohong, selain saran-sarana komunikasi lainnya. Dan sayangnya kerap kali masyarakat begitu saja percaya atas sebuah informasi yang dilihat di media sosial miliknya.

Tak heran kemudian Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemebkominfo) merilis data mengenai jumlah kabar bohong yang marak beredar di media sosial dalam kurun waktu Agustus 2018 hingga April 2019.

Menurut Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ferdinandus Setu, dalam kurun waku tersebut tercatat 1,731 hoaks atau kabar bohong yang berhasil mereka temukan dilakukan tindakan.

Bahkan sepanjang April 2019 lalu saja, kata Ferdinandus Setu, Jumat 18 Oktober, jumlah hoaks atau kabar bohong tercatat 486 kabar bohong yang berhasil ditemukan. Sekitar 209 hoaks di antaranya adalah terkait dengan isu politik.

Isu politik di tahun politik 2019 memang menjadi bahasan yang menarik. Sebagaimana diuraikan oleh Ferdinandus Setu dalam sebuah kesempatan, dari kurun waktu Agustus 2018 hingga April 2019 jumlah hoaks kategori politik mencapai 620 hoaks, sementara kategori pemerintahan hanya 210 hoaks dan kategori kesehatan 200 hoaks.

Penanganan serius

Presiden Joko Widodo menilai masalah penyebaran kabar bohong atau hoaks sebagai sesuatu yang memprihatinkan dan perlu penanganan yang serius agar tidak menyebar dan kemudian membuat suasana menjadi tidak stabil.

Dalam sebuah kesempatan saat membuka Kongres XXIV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 28 September 2018, Presiden mengatakan kabar bohong menjadi masalah bersama sehingga perlu penanganan yang serius.

Menurut Presiden, penyebaran kabar-kabar itu cenderung dilakukan melalui media yang tidak terdaftar atau tidak jelas penanggung jawab dan alamatnya. Selain itu, ia juga mencatat informasi bohong itu juga kerap disebar secara berantai melalui media sosial maupun aplikasi sehingga bisa mempengaruhi persepsi massa bahwa informasi yang disampaikan berstatus benar.

"Tentu saja di balik penyebaran hoaks itu ada modus kepentingan-kepentingan tertentu, utamanya ini kepentingan politik yang sangat kuat untuk mempengaruhi persepsi pembaca sehingga sesuai dengan tujuan kepentingan itu, sesuai dengan kepentingan politiknya," kata Presiden Joko Widodo saat itu.

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X