Asap Tebal Masih Terdeteksi di Sumatera

- 17 Oktober 2019, 15:09 WIB
PENGENDARA motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang diselimuti kabut asap pekat di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Selasa, 15 Oktober 2019. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyebabkan timbulnya kabut asap pekat yang berdampak terganggunya aktivitas warga dengan jarak pandang terbatas serta menimbulkan aroma menyengat.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Kondisi umum di Sumatera memperlihatkan masih terdeteksi asap yang cukup tebal, terutama di Jambi dan Sumatera Selatan. Hal ini terlihat dari jarak pandang yang pendek dan kondisi cuaca yang berasap. Sedangkan di Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan relatif sudah berkurang dan tidak terdeteksi asap di seluruh Kalimantan.

Demikian diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Agus Wibowo, dalam keterangan resminya yang diterima Pikiran Rakyat, Kamis, 17 Oktober 2019. 

Dijelaskan Agus, pandang dan cuaca di beberapa bandara di Sumatera dan Kalimantan yaitu Sibolga 3,2 km (berasap), Pekanbaru 2,0 km (udara kabur), Kerinci 3,0 km (berawan), Jambi 0,4 km (berasap), Palembang 0,8 km (berasap), Pontianak lebih dari 10 km (berawan), Sintang 5.0 km (udara kabur), Pangkalan Bun 6,0 km (berawan), Sampit 7 km (berawan), Palangkaraya lebih dari 10 km (berawan), dan Banjarmasin 5,0 km (udara kabur).

“Pantauan hotspot dari LAPAN yang dianalisis oleh BMKG pada hari ini pukul 7.00 WIB dengan tingkat kepercayaan 81%-100% menunjukkan Riau 16 titik, Jambi (134 titik), Sumatera Selatan (89 titik), Kalimantan Barat (1 titik), Kalimantan tengah (21 titik), dan Kalimantan Selatan (8 titik). Terlihat jumlah hotspot yang cukup banyak di Papua yaitu 267 titik yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Merauke yaitu 263 titik yang tersebar di 17 distrik di antaranya Animha, Elikobel, Ilwayab, Jagebob, Kaptel, Kimaam, Kurik, Malind, Merauke, Muting, Naukenjerai, Ngguti, Okaba, Sota, Tabonjo, Tanah Miring, Tubang, dan Waan,” ujar Agus.

Karhutla di Merauke

Agus menjelaskan, untuk kebakaran hutan dan lahan di wilayah Merauke, pada Rabu, 16 Oktober 2019 terdeteksi 23 titik api yang tersebar di 11 Distrik di Kabupaten Merauke, Papua. Berdasarkan data laporan yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari Liaison Officer (LO) BNPB Satuan Danrem Merauke, kata Agus, rata-rata kebakaran lahan tersebut disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia untuk tujuan tertentu.

“Adapun rincian wilayah yang terdeteksi di antaranya adalah 3 titik di Distrik Animha berupa lahan ladang karet dan akasia serta vegetasi rawa. Masyarakat sengaja membakar untuk membuka lahan. Akan tetapi, upaya pembakaran tersebut dijaga oleh masyarakat supaya apinya tidak menjalar. Selain untuk membuka lahan, tujuan dari pembakaran lahan itu juga dilakukan masyarakat untuk mencari ikan gastor,” ucap dia.

Masih dikatakan Agus, 2 titik api ditemukan di Distrik Ilwayab masing-masing di Kampung Bibikem dan Kampung Padua. Kebakaran lahan tersebut disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan rumput pasca-kebakaran sebagai makanan utama rusa dan kanguru sebagai hewan buruan masyarakat sekitar. Selain itu pembakaran juga dilakukan sebagai tradisi meminta hujan.

Selanjutnya, lanjut Agus, ada 3 titik api terpantau berada di Distrik Kurik masing-masing tersebar di Kampung Harapan, Kampung Ivimahad, dan Kampung Salor Indah. Titik api tersebut terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

Sama halnya dengan Distrik Kurik, titik api yang terdeteksi di 2 lokasi di Distrik Malind, masing-masing Kampung Kumbe dan Kampung Rawasari juga terdeteksi dari jerami yang sengaja dibakar masyarakat dengan tujuan untuk membuka kembali lahan pertanian pascapanen.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X