Kamis, 20 Februari 2020

Yogyakarta Punya Warisan Budaya Tak Benda Terbanyak

- 16 Oktober 2019, 19:55 WIB
SEJUMLAH abdi dalem menarikan Tari Beksan Lawung saat gladi resik di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Rabu, 4 September 2019. Gladi resik tersebut dilakukan sebagai persiapan Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman mengikuti Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII 2019 pada 7 - 12 September 2019 di Istana Kedatuan Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan.*/ANTARA FOTO

YOGYAKARTA, (PR).- Sebanyak 30 karya budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Tahun ini telah ditetapkan 267 karya budaya dari total usulan 698 karya budaya milik 31 provinsi. DIY menjadi provinsi yang memiliki jumlah terbanyak.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Tak Benda Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Sri Wahyuni di Yogyakarta, Rabu, 16 oktober 2019 menuturkan, jumlah karya WBTB DIJ mengalami peningkatan tiap tahun. Tahun 2017 ada 18, 2018 ada 27, dan tahun ini 30. “Kini DIY memiliki total 94 karya WBTB yang sudah ditetapkan,’’ katanya.

WBTB dikatagorikan menjadi lima domain. Yakni tradisi dan ekspresi lisan, adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta; seni pertunjukan; serta kemahiran dan kerajinan tradisional.

Beberapa karya budaya yang ditetapkan adalah dakon Jogjakarta, sate klathak Jejeran, Gerobak Sapi, Andong, Lengger Tapeng, Oglek, maupun sistem pertanian sawah Surjan. “Tahun ini kami mengusulkan 40 karya budaya,” ucapnya.

Pemenuhan persyaratan dalam proses pengajuan WBTB diakuinya tak mudah. Pihaknya perlu melakukan kajian. Misalnya mengenai latar belakang karya budaya, perkembangan dan proses perkembangan. Diperlukan pula bukti dokumentasi dalam bentuk video, foto, serta pernyataan dan hasil wawancara narasumber pelaku budaya.

“Syarat tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas WBTB yang akan ditetapkan. Sehingga tidak cuma mengejar kuantitas karya budaya, tapi diimbangi dengan kualitas,” ujarnya

Karya budaya sendiri harus berusia 50 tahun atau telah diwariskan selama dua generasi. “Proses pengajuan bisa memakan waktu satu tahun. Dokumen disidangkan pada Agustus lalu,” tuturnya.

Dengan adanya pencatatan dan penetapan, dia berharap karya budaya yang dianut oleh komunitas, budayawan, maupun masyarakat, bisa tetap lestari dan dikembangkan. “Kami sebagai abdi negara dan masyarakat mendukung apa yang dilestarikan oleh masyarakat. Karya budaya tadi juga sudah menjadi milik DIY dan sudah menjadi hak patennya DIY,” katanya.

Tindak lanjut Disbud DIY setelah penetapan yakni melakukan perayaan karya WBTB melalui pementasan. Tahun ini ada perayaan 27 karya budaya yang ditetapkan pada 2018, dilakukan di Pleret. “Sebanyak 30 karya budaya yang ditetapkan pada tahun ini akan dirayakan pada 2020 mendatang," ucapnya.***

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X