Minggu, 15 Desember 2019

PLN Gunakan Pembangkit Piko Hidro Kejar Rasio Elektrifikasi 99,9%

- 16 Oktober 2019, 13:25 WIB
PLN.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN mengejar Rasio Elektrifikasi Nasional sebesar 99,9 persen pada tahun 2020, yang saat ini sudah 98,86%. Dari 34 provinsi, tinggal dua provinsi yang masih tertinggal yakni Papua dan Papua Barat. Salah satu untuk mengejar target itu adalah digunakannya pembangkit Piko Hidro.

Piko Hidro  merupakan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas sangat kecil, yakni 1-100 KWH. Jauh di bawah cara kerjanya, air yang telah dibendung dialirkan ke dalam bak penampung yang berisi turbin sehingga aliran air akan memutar turbin tersebut. Selanjutnya turbin akan memutar generator yang pada akhirnya menghasilkan listrik. 

"Penggunaan pembangkit Piko Hidro di antaranya daerah tersebut harus memiliki prasyarat, potensi aliran air bagus, kondisi keamanan kondusif, dan seluruh masyarakat mendukung serta membantu program pembangunannya," kata Direktur Bina Program Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) Jisman S, di Jakarta Rabu 16 Oktober 2019.

Kepala Divisi Konstruksi Regional Maluku dan Papua PT PLN (Persero) Robert Aprianto Purba menjelaskan, keunggulan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Piko Hidro (PLTPH) adalah cocok digunakan di daerah terpencil. "Piko Hidro hanya butuh ketinggian air 1-3 meter dan debit 30 liter per detik. Jadi cocok digunakan di daerah terpencil,” jelasnya. 

Selain itu, biaya investasinya tergolong murah sekitar Rp 30 juta per unit dengan biaya pemeliharaan yang minimum dan tidak memerlukan biaya bahan bakar. “Piko Hidro ini pun mudah dirakit dan dioperasikan serta bisa beroperasi selama 24 jam sesuai dengan debit air. Teknologi ini membuatnya cocok untuk diterapkan di daerah terpencil yang memiliki debit air yang sesuai,” urai Robert. 

Berkat PLTPH berdaya 1 KWH yang memanfaatkan aliran air sungai Wapra itu, maka 37 rumah di Kwaedamban kini bisa menikmati terang di waktu malam. “Itulah manfaat dari survei Ekspedisi Papua Terang, memetakan sumber pembangkit yang cocok untuk setiap desa di Papua. Dengan demikian pembangkit yang kami bangun bisa sesuai dengan karakteristik alam setempat sehingga diharapkan dapat bertahan dalam jangka panjang,” kata Robert.

Jisman menjelaskan, untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100% di  Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020 nanti, masih ada 414 desa dengan 78.000 rumah yang harus dilistriki.
Berdasarkan data Kementrian ESDM, Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini adalah 98,3%.

Hal itu dicapai melalui kontribusi PLN (48,5%), program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) dari  Kementrian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.  Sementara tingkat RE nasional PLN yang mencapai 98,86%. PLN berencana mengakhiri kegelapan malam di Papua dengan melistriki 1.724 desa di sana. 

"Dengan demikian, target besarnya pada akhir 2020 rasio elektrifikasi nasional mencapai 99,9%.  Dibandingkan 32 provinsi lain di Indonesia, rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat masih tertinggal. Untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) 100% di  Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020 nanti, masih ada 414 desa dengan 78.000 rumah yang harus dilistriki," ujar Jisman.


Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

X