Aspergillus sp, Jamur Perusak yang Mampu Selamatkan Lingkungan

- 2 Oktober 2019, 19:02 WIB
KAIN batik.*/DOK. KABAR BANTEN

HARI Batik Nasional yang jatuh pada Rabu,  2 Oktober disambut antusias masyarakat di tanah air. Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Warisan budaya  ini  juga memiliki peran penting bagi perekonomian nasional serta menjadi penyumbang devisa negara, karena memiliki pasar ekspor yang besar seperti di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Bahkan industri batik telah  mendorong pertumbuhan  industri tekstil dan pakaian jadi pada triwulan I tahun 2019, yang mencatatkan posisi tertinggi dengan capaian 18,98 persen. Kinerja ini melampaui pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen di periode yang sama. (industry.co.id)

Di balik kecantikan corak batik dan warna pada gaun, baju kemeja, serta kain batik tersimpan potensi yang membahayakan terhadap lingkungan hidup ,bahkan kesehatan manusia.

Ini karena potensi ekonomi terhadap  pertumbuhan industri batik tidak dibarengi dengan penanganan limbah batik yang memadai. Ada ratusan industri batik, dan sentra batik di sejumlah daerah tanah air termasuk sentra batik di Kabupaten Pekalongan dan Banyumas Jawa Tengah. Namun limbah batik dibuang  ke sungai begitu saja,  akibatnya   hampir semua sungai di kota batik Pekalongan menjadi berwarna warni.,

Limbah berbahaya

Padahal kandungan dalam  limbah cukup berbahaya warna yang pekat, zat padat tersuspensi, BOD, COD, fenol, krom total, minyak lemak dan pH yang perlu pengolahan sebelum dibuang ke badan air.

Menurut Effendi (2007:207) senyawa fenol merupakan senyawa aromatik dengan satu atau beberapa gugus hidroksil yang terikat secara langsung pada cincin benzena,senyawa kimia yang paling sulit terurai.

Ratna Stia Dewi, peneliti dan dosen di Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto  mengatakan, setiap ada produksi batik, jelas akan  menghasilkan limbah juga, terutama pewarna. Maka tidak mengherankan, kalau di sentra-sentra batik, pasti ada air yang berwarna-warni. "Efek  limbah batik terhadap lingkungan lebih tinggi dibanding Industri konfeksi," terangnya.

Pewarna batik sangat berbahaya karena beracun dan sulit terurai. Air yang tercemar menjadi keruh dan dapat membunuh organisme yang hidup di daerah perairan sungai seperti mikroba, meracuni ikan, hingga tanaman.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X