Selasa, 2 Juni 2020

Kakek dan Nenek Tempati Gubuk Reyot di Kota Baja

- 2 Oktober 2019, 06:20 WIB
FOTO ilustrasi rumah tak layak huni.*/DOK. KABAR BANTEN

CILEGON, (PR).- Di tengah hiruk pikuk gemerlap Kota Cilegon yang disebut Kota IndustrI, Kota Dolar dan Kota Baja, ternyata ada warga hidup dalam kemiskinan.

Tepatnya di lingkungan Kolelet Kel. Deringo Kec. Citangkil hiduplah sepasang suami istri bernama Asmin (70) dan istrinya Muawanah (60). Mereka ditemani oleh 3 orang cucu dari 1 orang anak perempuan yang hidupnya jauh dari kata layak.

Mereka tinggal di sebuah gubuk dengan ukuran 3 X 2 meter. Gubuk tersebut terbuat dari bambu yang sudah lapuk dan hanya tingga menunggu waktu untuk ambruk.

Sebagai pembatas dari pandangan orang melihat banyak terpal dan spanduk bekas untuk menutupi gubuk tersebut. Untuk memasak, dapurnya sepertinya alakadarnya bahkan sampai menyusun batubata guna menempatkan wajan atau panci di atas tungku. Kepada awak media Asmin menceritakan bahwa dirinya baru tinggal sekitar 2 mingguan di tanah milik RT setempat.

“Awalnya saya menumpang di rumah saudara karena saya asli orang sini. Namun karena di saudara saya ada yang menikah, dan satu rumah dihuni oleh 5 Kepala Keluarga (KK) akhirnya saya sadar,namanya juga menumpang, makanya saya pergi dari rumah saudara tersebut sambil membawa cucu dan anak saya,” katanya, Selasa 1 Oktober 2019.

Cari barang bekas

Asmin mengatakan, selama ini untuk menghidupi 1 anak dan 3 cucunya ia mencari barang bekas kesana kemari dan menjualnya pada sebuah lapak rongsokan. Uang hasil menjual barang bekas tersebut, digunakan untuk sehari-hari. Namun demikian, ia tak pernah mengeluh atau meratapi kehidupannya.

“Keseharian saya mencari barang bekas, mulai dari botol air mineral, besi ukuran kecil dan barang-barang bekas yang bisa dijual. Sehari bisa dapat Rp 15-20 ribu. Lantas uang itu kami gunakan buat keperluan sehari-hari. Walau tidak cukup, saya cukupkan saja. Alhasil dengan uang segitu, cucu saya tidak bisa sekolah karena tidak punya biaya,” ujarnya.

Asmin mengungkapkan, dirinya pernah punya menantu, namun menantu tersebut meninggal karena penyakit yang diderita. Akhirnya berbekal percaya kepada Allah SWT,ia menjalani hidup tanpa pernah mengeluh.Karena, kata dia, kalau tiap hari mengeluh, maka tidak akan ada usaha untuk menghidupi keluarganya.

“Pernah punya menantu, tapi meninggal karena penyakit. Untuk itu saya bersama cucu dan anak terus menjalani kehidupan ini. Buat apa mengeluh, bagi kami, mengeluh bukan jalan satu-satunya, ya terus saja menjalani hidup ini,” tuturnya.

Halaman:

Editor: anef


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X