Rabu, 27 Mei 2020

Pebisnis Media Harus Berinovasi Mencari Pendapatan di Luar Iklan

- 23 September 2019, 21:53 WIB
KETUA Harian Serikat Perusahaan Pers Pusat Januar P. Ruswita memaparkan tantangan dan peluang industri pers di era digital, dalam Seminar Dua Dekade UU Pers dan Masa Depan Industri Pers di Indonesia, Jakarta, Senin, 23 September 2019. Turut hadir sebagai pembicara Pemred Tirto.id Sapto Anggoro (paling kanan), Anggota Dewan Pers Asep Setiawan (tengah) dan Komisaris PT Tempo Inti Media Bambanf Harymurti (kedua kiri).***

JAKARTA, (PR).- Secara fungsi, dunia jurnalisme masih berperan sangat penting dan relevan dengan perkembangan zaman. Terbitnya UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers juga masih kokoh menjamin para penggiat pers, baik wartawan maupun perusahaan atau lembaga pers untuk tetap optimistis mengarungi masa depan.

Kendati demikian, secara bisnis, perusahaan atau lembaga pers harus berinovasi. Terus mencari model baru untuk mendapatkan pemasukan di luar iklan. Ini karena, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terus menggerus pendapatan media massa konvensional yang sudah terdisrupsi oleh internet.

“Kemerdekaan pers terus mengalami kenaikan. Artinya iklim atau situasi masa orde baru dulu, sekarang tidak ada lagi. Tetapi, kebebasan tersebut membuat lembaga pers terutama online meningkat pesat. Secara kualitas, independensi redaksi mulai menjadi persoalan akibat pembagian iklan semakin kecil,” kata Anggota Dewan Pers Pusat Asep Setiawan dalam Seminar Dua Dekade UU Pers dan Masa Depan Industri Pers, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin, 23 September 2019.

Ia menegaskan, di satu sisi, UU Pers masih kompatibel dengan kemajuan teknologi dan demokrasi. Akan tetapi, jika tidak bertranformasi, sebuah lembaga pers, terutama cetak bisa gulung tikar. “Satu provinsi sampai ada 100 situs berita. Sementara jumlah lembaga pers cetak terus menurun dalam 5 tahun terakhir. Kekerasan terhadap wartawan menurun, tetapi pengaduan dugaan pelanggaran pers meningkat,” ujarnya.

Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers Pusat Januar P. Ruswita sependapat dengan Asep terkait kualitas produk jurnalistik yang perlu pembenahan. Januar juga optimistis bisnis media cetak masih memiliki masa depan. Menurut dia, hadirnya internet memberikan tantangan sekaligus peluang bisnis industri pers.

“Di media cetak, pendapatan iklan terus turun sejak 2011. Turun 10 persen setiap tahun. Tetapi saya percaya, kekuatan brand masih sangat kuat untuk mengembangkan model bisnis lain. Misalnya dengan menyelenggarakan even, kerja sama dengan pemerintahan, media print masih punya kekuatan. Bagaimana menjaga brand? (meningkatkan) tiras!. Ini yang sangat berat,” katanya.

Januar meyakini, brand dan kualitas produk jurnalistik masih menjadi pegangan utama untuk bisnis industri pers. Menurut dia, media berbasis dalam jaringan memang sangat banyak dan menjadi pesaing. “Tapi banyak yang abal-abal. Mencari pembenaran, bukan kebenaran. Media mainstream jangan melakukan hal itu kalau ingin bertahan di industri pers dan mendapat kepercayaan khalayak,” ujarnya.

Belum stabil

Komisaris PT Tempo Inti Media Bambang Harymurti menyatakan, setelah era internet, industri pers belum menemukan model bisnis baru stabil. Artinya, belum ada satu pun media massa di dunia yang secara konsisten pendapatannya terus meningkat dari iklan setelah mengubah pakem bisnisnya dari konvensional ke digital. Menurut dia, media massa cetak yang berhasil beralih ke digital sejauh ini sangat tergantung kepada pembaca.  

“Bukan dari pengiklan. Tapi dari jumlah pembaca setia yang berlangganan. Seperti The New York Times. Saya sudah keliling mendatangi banyak media besar di dunia, di negara-negara maju sudah tidak ada yang hidup dari mengutamakan iklan. Mereka membangun engagement dengan pembaca melalui produk berita yang berkualitas, beritanya diakses melalui aplikasi berbayar,” ucap Bambang. 

Halaman:

Editor: Eva Fahas


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X