Kebakaran Hutan Terkait Perkebunan, Sanksi Lemah Tak Beri Efek Jera

- 21 September 2019, 14:55 WIB
ASAP terlihat di lokasi pembakaran lahan di perbukitan Sungai Bangek, Padang, Jumat 20 September 2019. Meski masih dalam kondisi terpapar kabut asap kebakaran hutan dan lahan serta musim kemarau, masih ada warga yang melakukan pembakaran lahan untuk berladang.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rasio Ridho Sani mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan kebakaran-hutan">kebakaran hutan. Salah satu penyebabnya adalah pembukaan lahan untuk perkebunan.

"Api muncul tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa ada manusia yang membawa api itu," kata dia di Jakarta, Sabtu 21 September 2019 seperti dilaporkan Antara.

Dia mengatakan, kebakaran-hutan">kebakaran hutan sering kali berkaitan dengan aktivitas perkebunan dan korporasi. Masyarakat sering membuka lahan dengan cara membakar hutan karena hal tersebut adalah cara paling mudah dan murah.

Oleh sebab itu, cara pandang korporasi dan masyarakat harus diubah. Harus ada pula penegakan hukum untuk siapa saja yang melakukan pembakaran.

loading...

Rasio Ridho Sani mengatakan, kebakaran lahan juga terjadi karena ada ekosistem gambut yang dirusak manusia.

"Ekosistem gambut rusak karena ada perkebunan, baik dari masyarakat atau korporasi. Mereka biasanya mengubah gambut dari basah menjadi kering agar bisa ditanam," kata dia.

Dia mengatakan, KLHK, sejak 2015, telah menerapkan sanksi baik adminsitratif atau pidana kepada korporasi yang melanggar aturan tersebut.

Pelaku yang sama

Dia mengatakan, KLHK juga telah bekerja sama dengan penegak hukum seperti polisi dan pengadilan tinggi negeri untuk menindak pelaku pembakaran hutan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X