Senin, 20 Januari 2020

Optimisme dan Asa, Pesan dari Penganugerahan Hadiah Sastera Rancage 2019

- 13 September 2019, 09:35 WIB
PARA penerima Hadiah Sastera Rancage berfoto bersama Ajip Rosidi (keempat kanan) dan pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage pada malam penganugerahan Hadiah Sastera Rancage di Teater Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis 12 September 2019.*/PUGA HILAL BAYHAQIE/PR

KEHADIRAN Hadiah Sastera Rancage memberikan harap­an akan keberlangsungan nasib bahasa daerah, khususnya dae­rah yang mengikuti ke­giatan tersebut. Tidak mudah untuk mengumpulkan penulis untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Beberapa daerah gagal mengirimkan sastrawannya lantaran jumlah peserta yang mengikuti kurang dari yang ditentukan oleh panitia, yaitu minimum lima orang.

”Kebijakan tersebut sangat bagus untuk menantang para sastrawan di daerah agar makin banyak yang ikut serta. Sastrawan di daerah bukan tidak mau mengikuti, tapi memang tidak ada yang nulisnya,” kata sastrawan peraih Hadiah Rancage 2018, Saut Poltak Tambunan, di Jakarta, Kamis 12 September 2019.

Saut Poltak Tambunan merupakan mentor untuk sastra Batak. Ia dan bebe­rapa sastrawan dari daerah lainnya, seperti Lampung dan Banjar, tak ikut serta lantaran minimnya penulis.

Di lain sisi, minat baca sastra Batak terbilang tinggi. Ia menceritakan, buku yang ditulisnya, Bangso Na Jugul Do Hami, laku keras. Dua ribu buku ia cetak laris dalam beberapa bulan.

”Orang Batak memiliki ke­percayaan bahwa menghargai bahasa daerah sebagai bentuk identitas mereka,” ujar Saut Poltak Tambunan.

Kondisi berbeda terjadi de­ngan sastrawan di Bali dan Jawa. I Gede Agus Darma ­Putra, sastrawan muda Bali mengatakan bahwa secara kuantitas, jumlah sastrawan di Bali masih banyak. Hanya, sistem penjualan belum membahagia­kan.

”Penjualan buku hanya terjadi antara sastrawan. Kalaupun ada pihak luar yang membelinya, itu bisa dilihat dari beberapa orang saja, seperti mahasiswa yang mau ujian skripsi atau kalang­an komunitas,” tuturnya.

Juri Hadiah Sastera Rancage 2019, Teddi Muhtadin, menuturkan bahwa kondisi tersebut membuat kreativitas seniman terhambat. Ia menyarankan, untuk saat ini, harus ada profesi lain untuk menopang kreativitas kesusastraan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X