Kemarau Panjang, Warga Cipala Kumpulkan Iuran Beli Air Bersih

- 12 September 2019, 10:18 WIB
ILUSTRASI.*/ANTARA

CILEGON, (PR).- Dampak kemarau yang berkepanjangan membuat puluhan warga di Lingkungan Cipala RT 01/ RW 05, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, melakukan iuran untuk mendapatkan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut dilakukan warga mengingat sumber air bersih di wilayah tersebut sangat terbatas.

Salah seorang warga sekitar, Hasunnah, mengatakan, dirinya mendapatkan jatah sehari tujuh jeriken. Kendati tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi mau tak mau jatah tersebut harus cukup. Karena, selain persedian air yang terbatas, ia pun harus merogoh kocek tidak sedikit, yakni Rp 2.000 per jeriken.

"Cukup engga cukup di jatah 7 jeriken ini, biasanya buat nyuci sama mandi, kalau minum saya mah beli," katanya kepada Himawan Susanto dari Kabar Banten, Rabu, 11  September 2019. 

Dia mengatakan, biasanya harga air hanya Rp.1000 per jeriken, namun karena musim kemarau, dirinya harus menambah nilai beli. Walau harga air naik, kata dia, asalkan barangnya ada maka hal itu tidak menjadi masalah.

‘Kalaupun naik menjadi Rp 2.000 per jeriken, kami tidak masalah, asalkan barangnya ada dan tidak telat untuk mendapatkannya,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Remaja Masjid Cipala selaku pengelola air bersih, Dayat, mengaku miris dengan kondisi kekurangan air bersih di lingkungan Cipala tersebut. Karena, kata dia, dengan terbatasnya air, membuat harga air di lingkungan lebih mahal dari harga beras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau beras sehari mungkin cukup satu liter setiap KK, sementara kebutuhan air terkadang tujuh sampai sepuluh jeriken. Dimana setiap jeriken harganya Rp 2.000, jika di kali 10 sudah Rp 20.000," tuturnya.

Ia mengatakan, diirinya terpaksa memberlakukan harga Rp 2.000 per jeriken tersebut, karena selain untuk biaya transportasi membeli air, juga untuk beli air yang mencapai Rp 50.000 per 1.000 liter. Selain itu, uangnya pun digunakan untuk kegiatan sosial masyarakat.

"Dananya dari warga sendiri, kalau kita jual harganya Rp 2.000 per jeriken, tapi kita sistemnya tidak memaksa, ada yang ngasih kita terima, kalau enggak juga kita enggak nagih," ucapnya.

Halaman:

Editor: Endah Asih


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X