Sabtu, 22 Februari 2020

Kemarau Panjang Ancam Produksi Pangan 

- 27 Agustus 2019, 20:10 WIB
KEKERINGAN melanda ribuan hektare sawah di Kabupaten Indramayu sehingga mengakibatkan puso. Akan tetapi, baru sedikit petani yang mengasuransikan lahannya.*/GELAR GANDARASA/PR

JAKARTA, (PR).- Pertanian akan jadi sektor yang paling terancam akibat kemarau tahun ini. Menurut Kepala Bidang (Kabid) Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Hary Tirto Djatmiko, kemarau tahun ini akan lebih kering bila dibandingkan tahun 2018. 

“Itu akan berdampak di beberapa sektor. Pertanian yang tidak ada hujan. Sektor sumber daya air yang impact-nya pada ketersediaan air, dan lingkungan yang berpotensi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan)," kata Hary seperti dilansir dari laman Antara, Selasa, 27 Agustus 2019.

Lebih lanjut, Hary mengaku tak bisa menyamaratakan kondisi yang terjadi di seluruh Indonesia. Namun ia menegaskan, ketersediaan air tanah akan mengalami defisit. "Sektor pertanian akan mengering karena air (tidak ada)," imbuh Hary.

Ditemui terpisah, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Dwi Andreas mengatakan kondisi defisit air seperti itu, tentu akan berdampak negatif pada sektor pertanian. "Luas panen diperkirakan akan menurun diatas 500 ribu hektar dibanding tahun 2018. Itu minimum," ujarnya.

Turunnya luas panen tersebut, menurut Andreas, disebabkan karena mundurnya musim tanam. Baik musim tanam pertama di musim hujan, maupun musim tanam kedua di musim gadu (padi yang ditanam pada musim kemarau). "Perhitungan saya, penurunan produksi beras kira-kira dua juta ton, itu paling optimis. Bisa lebih dari dua juta ton," ujarnya lagi. 

Tak terbuai hitungan surplus

Oleh karena itu, ia menegaskan agar pemerintah benar-benar waspada. Tidak boleh terbuai dengan data yang menyebutkan adanya potensi surplus sekitar 4 juta ton hingga September 2019.

"Hitungan itu tidak memperhitungkan bahwa masa paceklik itu sampai Februari atau Maret tahun depan. Kebutuhan kita sebulan itu sekitar 2,5 juta ton. Artinya untuk dua bulan saja tidak cukup. Bagaimana untuk bulan-bulan berikutnya," beber Dwi Andreas.

Apalagi, sambung dia, dipastikan mulai bulan Oktober sampai Februari neraca akan defisit. "Jadi surplus saat ini empat juta ton itu tidak ada apa-apanya lah. Itu yang harus diwaspadai," imbuhnya.

Di sisi lain, indikasi turunnya jumlah produksi beras saat ini sudah terlihat. Yakni dari harga gabah kering panen (GKP) yang sudah hampir mencapai Rp 6 ribu. "Lalu harga berasnya berapa? Ini tanda-tanda mulai terjadi kekurangan. Harga tidak bisa ditipu, kalau data sih terserah teman-teman Kementan (Kementerian Pertanian)," tuturnya.

Halaman:

Editor: Eva Fahas

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X