Rabu, 26 Februari 2020

Pelanggaran HAM Masa Lalu di Papua Picu Konflik yang Terus Berulang

- 20 Agustus 2019, 20:45 WIB
MAHASISWA asal Papua berdemonstrasi di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Selasa 20 Agustus 2019. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan protes terhadap kekerasan serta diskriminasi ras terhadap warga Papua yang terjadi di Surabaya dan Semarang.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Belum diselesaikannya sejumlah kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua membuat konflik di kawasan Indonesia timur itu terus berulang. Hal itu disampaikan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Rosita Dewi, Senin 19 Agustus 2019.

Mengacu kepada Papua Road Map yang dibuat Tim Kajian Papua LIPI pada 2009, sumber konflik di Papua bersumber dari pelanggaran HAM masa lalu yang penyelesaiannya menggantung. Belum lagi, persoalan sejarah dan status politik, kegagalan pembangunan, hingga marjinalisasi masyarakat Papua.

"Kondisi itu mengakibatkan kejadian-kejadian seperti di Malang berulang. Kejadian di Malang bukan yang pertama, kejadian serupa di beberapa daerah juga terjadi," kata Rosita.

Menurut dia, peringatan hari-hari bersejarah seperti 1 Juli, 1 Desember, 14 dan 15 Desember yang sering diperingati oleh kelompok pro Papua merdeka sejatinya merupakan upaya menunjukkan ketidakpuasan dan kekecewaan atas kebijakan pemerintah di Papua.

Mereka ingin pemerintah menangani permasalahan Papua yang sudah menahun itu secara komprehensif, tidak hanya melalui pengerahan TNI yang malah menimbulkan persoalan karena trauma masyarakat akibat pelanggaran HAM masa lalu.

"Namun tindakan yang dilakukan para mahasiwa maupun demonstran saat ini berubah anarki seperti yang terjadi di Sorong dan Manokwari sebagai bentuk kemarahan atas apa yang terjadi terhadap mahasiswa Papua yang di Malang," ucap dia.

Untuk mengurai masalah yang terjadi, Rosita menilai perlunya penegakan hukum secara berimbang, tegas, dan adil.

Simultan dan berkesinambungan

Pengusutan dilakukan terhadap semua pihak baik mahasiswa Papua maupun pelaku persekusi dan tindakan rasisme. Sementara lebih jauh lagi, penyelesaian masalah di Papua mesti dilakukan secara simultan dan berkesinambungan.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X