Kamis, 2 April 2020

Usia ke-74, Indonesia Hendaknya Mengoptimalkan Komitmen Kebangsaan

- 14 Agustus 2019, 18:44 WIB
WARGA melintas di depan mural wajah-wajah Presiden Indonesia dari Sukarno hingga Joko Widodo di Jagalan Solo, Jawa Tengah, Rabu, 14 Agustus 2019. Selain untuk menyambut HUT ke-74 Republik Indonesia, mural tersebut dibuat sebagai edukasi bagi warga, khususnya generasi muda tentang sosok tujuh Presiden Indonesia.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Tinggal menghitung hari, Republik Indonesia yang merdeka sejak 1945 akan menginjak usia 74 tahun. Di usia yang tak lagi muda ini, Indonesia terus mengalami proses pergulatan politik yang melintasi zaman. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Nono Sampono pun menilai perlunya mengoptimalkan bukan hanya memelihara komitmen yang telah dibuat oleh pendiri bangsa.

Dalam diskusi yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, 14 Agustus 2019, Nono menyebut NKRI bisa eksis sampai hari ini karena beradaptasi dengan ruang waktu. Indonesia juga tidak hanya melihat ke dalam tetapi juga melihat ke luar, perkembangan dunia,  perkembangan regional dan global yang memberikan pengaruh-pengaruh baik secara politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan bahkan terkadang menyentuh masalah ideologi.

“Proses itu tetap berlangsung sepanjang kita berada pada koridor empat hal yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,  yaitu landasan ideologi Pancasila, NKRI,  kemudian Bhinneka tunggal Ika dan UUD 45. Walaupun kita tahu UUD 45 kita ini, karena proses adaptasi dan penyesuaian dan tuntutan zaman maka kita sudah melakukan amandemen sampai keempat dan  inilah tuntutan yang kita lakukan,” ucap Nono.

Refleksinya pada proses adaptasi bangsa disebut Nono mengalami lima transformasi besar. Sistem politik yang tadinya cukup otoritarian di orde lama dan orde baru sekarang lebih demokratis, belum lagi sistem pemerintahan yang tadinya sentralisasi menjadi desentralisasi.

Ketiga masalah ekonomi yang sudah tidak berbasis sumber daya alam karena makin lama makin menabrak kelestarian lingkungan, sehingga ekonomi kreatif jasa dan sumber daya manusia menjadi terdepan. Adapun Hubungan luar negeri kini semakin diprioritaskan.

loading...

“Masa lalu kita lebih pada aku, saya, beta, Indonesia saja, tetapi sekarang sudah harus berangkat dari kepentingan kawasan yaitu Indonesia dalam Asean, Indonesia dalam konteks Asia, Indonesia dalam konteks Asia Pasifik misalnya begitu. Terakhir pendekatan keamanan sudah ditinggalkan, hukum di kedepankan,” ucap dia.

Oleh karena itu dengan menggunakan parameter ini, kata Nono, tentu Indonesia semakin dinamis dan maju. Dia pun menilai ide kembali ke UUD 1945 menjadi tidak relevan.

“Kalaupun ada kelompok-kelompok, golongan, sekelompok masyarakat di antara kita yang berkehendak kembali ke UUD 45, maaf saja, menurut saya itu suatu kemunduran dari demokrasi, dari sudut pandang itu. Karena UUD '45 yang pada tahun '45 tuntutannya masanya pada saat itu, dunia masih seperti itu dan sekarang sudah tidak bisa, dunia sudah berbeda sekali,” ucap dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Mardani Ali Sera menilai, syarat Indonesia menjadi negara maju itu ada konsolidasi Demokrasi dan stabilitas politik, ekonomi yang tumbuh berkualitas, dan pengembangan sumber daya manusia kita. Dengan adanya tiga syarat ini tak perlu lah kembali mengotak atik empat konsensus dasar bangsa Indonesia yakni Pancasila, Undang-undang dasar 45, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X