Minggu, 19 Januari 2020

Kembali Ancam Blokir Jalan, Warga TPST Piyungan: Kami Ini Korban Sampah

- 11 Agustus 2019, 18:15 WIB
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, di Desa Sitimulyo, Kabupaten Bantul.*/WILUJENG KHARISMA/PR

BANTUL, (PR).- Warga di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengancam akan melakukan pemblokiran jalan menuju TPST jika tuntutan mereka untuk mendapatkan kompensasi tak kunjung terwujud.

“Masalah ini sudah berlarut-larut. Kami ini korban sampah. Tak hanya sampah dari Kota Yogyakarta, tapi juga dari Kab. Bantul sendiri dan Kab. Sleman. Pemblokiran sudah kami lakukan berkali-kali namun tuntutan kami tak juga terealisasi,” ucap Parlan (36), warga setempat.

Rumah tempat tinggal Parlan saat ini berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pembuangan sampah. Ia lahir, tinggal dan dibesarkan di Padukuhan Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul.

Setiap hari, apalagi di musim kemarau, Ia sudah sangat terbiasa ketika mendapati pelataran rumahnya dipenuhi oleh ceceran sampah. Sampah itu berasal dari timbunan di TPST Piyungan yang terbang tersapu oleh angin.

Sampah itu terbang kemana-mana. Bukan hanya di pekarangan milik Parlan, namun juga jatuh di pekarangan lain dan sebagian di jalanan kampung. Belum lagi, polusi debu dan bau sampah yang diakuinya sangat menyengat di hidung."Bau menyengat biasanya datang malam. Jam tujuh, jam delapan," tuturnya.

Bau menyengat itu sudah dirasakan oleh Parlan, istrinya, kedua anaknya yang masih kecil-kecil dan mayoritas warga Desa selama bertahun-tahun. Bahkan, bau sampah bagi mereka seakan sudah sangat familiar. Istilah yang dikatakan Parlan, "Bau yang dipaksa untuk terbiasa."

Mereka bersama-sama pernah menutup akses masuk menuju TPST Piyungan. Tujuannya, menuntut pemerintah memberikan dana kompensasi tunai, bukan dalam bentuk pembangunan kepada warga terdampak.

"Selama ini (kompensasi diberikan) sistem bangunan, lewat desa. Sistem bangunan itu seperti bangun talut pengecoran, mengajukan proposal. Dan apabila tidak mengajukan, ya tidak dapat. Kami minta kompensasi tunai," katanya.

Kompensasi tunai yang dimaksud oleh Parlan adalah pemberian uang tunai kepada kepala keluarga bagi warga terdampak. Meliputi RT 03-04 Padukuhan Ngablak, Desa Sitimulyo Piyungan dan RT 06, Desa Bawuran Pleret. "Jumlahnya sekitar 160-170 kepala keluarga," ujar dia.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X