Pendekatan Budaya untuk Selamatkan Harimau Sumatra

- 7 Agustus 2019, 12:14 WIB
Harimau/REUTERS
Harimau/REUTERS

BATAM, (PR).- Pendekatan budaya perlu dilakukan kembali secara komprehensif sebagai salah satu cara menyelamatkan 600 harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae) yang tersisa di alam. Utamanya adalah budaya yang mengajarkan manusia untuk hidup berdampingan dengan satwa.

“Cerita tentang nenek moyang kita sebenarnya hidup berdampingan baik dengan satwa itu ada. Salah satu buktinya di Kerinci, Jambi, arsitektur rumah panggung sebagai kearifan lokal yang memungkinkan mereka hidup damai dengan satwa liar, termasuk harimau sumatra,” kata Staf Komunikasi dan Pelaporan Tiger Project pada Manajemen Unit Sumatera Tiger UNDP, Hizbullah Arief, usai diskusi tentang harimau sumatra “AUM!” dalam rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional 2019, Batam, Selasa malam, 6 Agustus 2019.

Ia mengatakan, seperti dilansir dari kantor berita Antara, jika menganalisis buku-buku konservasi harimau sumatra yang sudah ada, nenek moyang tidak memiliki pilihan selain beradaptasi dengan lingkungan. Itu menciptakan satu solusi untuk hidup berdampingan.

Menurut dia, dari Aceh hingga Bengkulu, masih banyak budaya yang memosisikan harimau sumatra sebagai top predator dalam mata rantai makanan di Sumatera. Karenanya, masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat kembali melihat secara komprehensif kaitan antara budaya dan upaya melipatgandakan populasi harimau sumatra di Tanah Air.

Di Aceh, menurut dia, ada cerita harimau hitam dan putih yang menjaga makam sosok yang dihormati. Sedangkan di Kerinci, Jambi, masih ada cerita tentang manusia harimau.

Penghormatan masyarakat di sejumlah daerah di Sumatera untuk raja rimba ini masih ada, dengan penyebutan nama yang berbeda-beda, seperti silek harimau, datuk, ompunk. Ada juga kegiatan budaya seperti nganggah harimau yakni memanggil arwah harimau karena ada kepercayaan tentang manusia harimau.

Jika ingatan-ingatan budaya tersebut tetap terjaga dalam masyarakat Indonesia, menurut dia, ini dapat menjadi salah satu cara menyelesaikan konflik. Bahkan, itu menjadi modal untuk mendukung upaya melipatgandakan populasi harimau sumatra yang dijalankan pemerintah dan global.

Harimau sumatra membutuhkan pakan dan area yang cukup luas di hutan

National Project Manager of the Sumatran Tiger Project, Rudijanta Tjahja Nugraha, mengatakan, kucing besar ini hidup di 23 habitat hutan (wilayah konservasi) dan nonhutan (nonkonservasi) di Pulau Sumatera. Namun, ada juga yang hidup di hutan produksi seperti Bonita. Ia menjadi salah satu harimau sumatra yang hidup berbulan-bulan di hutan produksi di Indragiri Hilir, Riau.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X