Pindah Ibu Kota, Hijrah dari Gempa ke Asap Kebakaran Hutan

- 30 Juli 2019, 11:28 WIB
FOTO udara Sungai Kahayan yang diselimuti kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat, 26 Juli 2019. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Palangka Raya menyebabkan kabut asap yang cukup tebal disertai dengan bau asap yang sangat menyengat.*/ANTARA

POSISI Indonesia yang tepat berada di garis equator menjadikan negara ini menjadi salah satu dari 13 negara Khatulistiwa yang memiliki iklim tropis. 

Pada umumnya, daerah-daerah yang terletak di garis Khatulistiwa memiliki hutan hujan tropis atau rain forest, karena curah hujannya tinggi. Namun sebaliknya, di garis Khatulistiwa lah, matahari pada siang hari tepat di atas kepala dengan rata-rata suhu di atas 30 persen. 

Seiring dengan masuknya musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan mulai meluas, tidak hanya mencakup sebagian besar Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, namun juga ke wilayah Sumatera bagian Selatan, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi.

Seperti dilansir Kantor Berita Antara, Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Minggu, 29 Juli 2019 malam, mengeluarkan data terkini titik panas hasil pemantauan NASA dengan satelit Terra Aqua dan Lembaga Penerbagangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan Satelit Terra Aqua di sejumlah wilayah Indonesia.

Data dari citra satelit Terra Aqua yang diolah NASA per pukul 20.00 WIB, dengan level kepercayaan 80 persen ke atas menyebutkan terdapat 14 titik panas di Kalimantan Tengah dan dua di Kalimantan Selatan. Sementara itu, data dengan level kepercayaan 80 persen ke atas yang diolah LAPAN menyebut terdapat 12 titik panas di Kalimantan Tengah, dua di Kalimantan Selatan, serta satu di Kalimantan Timur.

loading...

Sebaran titik panas di Kalimantan Tengah ada di Kabupaten Pulangpisau, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Sedangkan titik panas di Kalimatan Selatan terdeteksi di Banjar, sementara di Kalimantan Timur terdeteksi di Kutai Kertanegara.
  
Sebelumnya pada Jumat, 26 Juli 2019, asap tipis dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut sudah mulai menyelimuti Palangkaraya. Manggala Agni berjibaku melakukan pemadaman api di Desa Taruna dan Desa Taruna Jaya, Kapuas, sedangkan tim Posko Induk Penanganan Darurat Bencana melakukan pemadaman api di sekitar Kota Palangkaraya.

Kabupaten Gunung Mas, daerah yang berjarak sekitar 180 km dari Kota Palangkaraya pun ikut berjaga-jaga. Pemerintah Kabupaten Gunung Mas langsung menetapkan status siaga darurat bencana karhutla.

Meskipun sebenarnya mayoritas lahan di sana bukan gambut namun berupa mineral, namun kondisi kering sebelum puncak musim kemarau yang diprakirakan BMKG terjadi pada Agustus membuat semua pihak diminta waspada karhutla guna mencegah timbulnya kabut asap.

Calon Ibu Kota

Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah merupakan salah satu tempat yang disebut-sebut menjadi salah satu calon ibu kota negara. Bahkan, Presiden Joko Widodo pada awal Mei 2019, telah melakukan survei di Gunung Mas dan termasuk "Kawasan Segitiga" yang terletak di antara Kota Palangkaraya, Kabupaten Katingan dan Kabupaten Gunung Mas.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X