Plastik Oxium Aman? Ini Penjelasan Peneliti LIPI

- 30 Juli 2019, 09:45 WIB
PLASTIK berbahan Oxium yang diklaim ramah lingkungan. Sebuah pesan berantai perihal kantong plastik ramah lingkungan menyebar dalam berbagai grup media sosial dalam beberapa hari terakhir. Dalam pesan singkat tersebut, plastik ini ditawarkan untuk digunakan mengemas daging kurban.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

BANDUNG, (PR).- Plastik berbahan Oxium viral karena diklaim bisa terurai dalam tanah hanya dalam waktu singkat. Benarkah demikian?

Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Akbar Hanif Dawam Abdullah menjelaskan, plastik berbahan Oxium berbeda dengan berbahan singkong. Pada dasarnya, oxium sama dengan plastik pada umumnya, seperti Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP). Hanya saja pada Oxium ditambahkan senyawa tertentu yang menyebabkan plastik hancur. "Bisa dalam jangka waktu lima tahun," kata Hanif saat dihubungi, Senin, 29 Juli 2019.

Meski hancur, rantai polimer yang terkandung didalamnya tetap ada. Hanya terpecah menjadi pertikel kecil-kecil. Artinya, sifat plastik itu sendiri tetap ada. Namun secara fisik sudah tidak tampak seperti wujud semula.

Hal itu berbeda dengan terurai. Plastik yang terurai akan kembali ke unsur alam yaitu CO2 dan H2O. Sehingga tidak ada lagi rantai polimer yang tersisa. Dengan kata lain, Oxium bukanlah plastik yang biodegradeble.

Hanif mengatakan, terurainya plastik menjadi partikel kecil namun tidak terurai seperti Oxium itu tetap menyimpan bahaya. Sebab partikel kecil plastik bisa masuk ke aliran air, tanah, termakan ikan, dan akhirnya berpindah ke tubuh manusia tanpa disadari.

Oleh karenanya, plastik Oxium tak bisa ditangani sembarangan. Penanganannya harus dengan kontrol penuh untuk memastikan tidak ada partikel-partikel hancuran yang mengalir ke air atau tanah. "Bisa saja ditempatkan di landfill dan dihancurkan di dalam tanah, harus ada kontrol," katanya.

LPTB LIPI sendiri mengembangkan bioplastik sebagai alternatif mengganti plastik biasa. "Bioplastik berasal dari pati dari singkong yang mudah diurai mikroba alami dengan cepat," kata Hanif.

Pati singkong itu diubah menjadi pellet yang menjadi bahan baku plastik. Dengan bahan pati singkong itu, plastik yang dihasilkan bisa diurai hancur dalam tanah kurang dari satu tahun. 

Sayangnya, biaya produksinya masih empat kali lipat harga plastik biasa. Namun jika bisa diproduksi lebih banyak, harga bisa semakin ditekan. Indonesia punya peluang besar karena merupakan penghasil singkong terbesar ketiga di dunia.***

Halaman:

Editor: Siska Nirmala


Tags

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X