Minggu, 19 Januari 2020

Gambar e-KTP dan KK Tersebar di Medsos, Waspadai Penyalahgunaan Data

- 29 Juli 2019, 04:18 WIB
ILUSTRASI e-KTP/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Gambar foto KTP elektronik (e-KTP)dan kartu keluarga (KK) kini banyak tersebar di internet. Padahal, data kependudukan yang diunggah di media sosial rentan disalahgunakan dan diperjualbelikan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. 

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh, mengatakan, data dan gambar e-KTP serta KK berseliweran di medsos dan laman pencarian Google. Ia mencontohkan, saat mengetik “KTP elektronik” di Google, dalam waktu sekitar 0,46 detik muncul 8.750.000 data dan gambar KTP elektronik. Bahkan, gambarnya tidak diburamkan sehingga datanya terpampang atau terbaca dengan jelas. 

Begitu juga ketika mengetik “Kartu Keluarga” di Google. Dalam waktu 0,56 detik, muncul tidak kurang 38.700.000 hasil data dan gambar KK.

"Banyaknya gambar e-KTP dan KK yang tersebar di Google juga menjadi celah bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan," katanya, Sabtu, 27 Juli 2019.

Saat ini, kata dia, masyarakat dengan mudah menyerahkan foto e-KTP dan KK untuk berbagai keperluan. Misalnya, mengurus surat izin mengemudi dan lainnya melalui biro jasa.

"Saat data KTP-el dan nomor HP kita itu sudah kita sebar luaskan sendiri ketika masuk hotel, perkantoran, dan lain-lain, tidak ada jaminan data tadi aman, tidak dibagikan ke pihak lain sehingga muncul banyak penipuan," kata Zudan.

Hal tersebut, kata dia, sama halnya ketika mengisi ulang pulsa di konter atau warung. Seseorang kerap diminta menulis sendiri nomor HP di sebuah buku. Data Nomor HP di buku tadi ternyata laku dijual dan ada pembelinya.

"Jadi saya pastikan, data kependudukan yang dijualbelikan itu bukan berasal dari Dukcapil. Saya juga ingin memastikan bahwa data NIK serta KK tersimpan aman di database Dukcapil dan tidak bocor seperti dugaan masyarakat," katanya.

Data di Dukcapil Kemendagri aman

Menurut Zudan, sistem pengamanan pusat data Dukcapil dibuat berlapis. Bagi mereka yang mau masuk ke pusat data harus melalui tiga kali tahapan pindai sidik jari. Dukcapil juga menggunakan jalur VPN saat berhubungan dengan operator. Dengan demikian, ia mengklaim, kebocoran yang berasal dari dalam Kemendagri sangat kecil kemungkinannya. 

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Jawa Barat Network

X