Minggu, 15 Desember 2019

Arswendo Atmowiloto , Wartawan yang Tersenyum di Penjara

- 20 Juli 2019, 06:21 WIB
SEJUMLAH kerabat dan anggota keluarga berdoa di dekat jenazah Sastrawan Arswendo Atmowiloto di Rumah Duka Petukangan Selatan, Jakarta, Jumat 19 Juli 2019. Arswendo meninggal dalam usia 70 tahun karena sakit kanker prostat.*/ANTARA

“Koran bukan hanya untuk dibaca, tetapi bisa juga menerangi. Selain dibaca dan menerangi, koran paling jitu untuk membakar".

Arswendo Atmowiloto menulis dua baris kalimat “hikmah” itu ketika meringkuk di sel penjara. Peristiwa yang dibahas sebetulnya ringan saja, yakni kebiasaan para tahanan menggunakan gulungan koran untuk membuat api selama aliran listrik padam. Mereka menyebutnya lilin cina.

Namun, lihatlah bagaimana Wendo begitu dalam merenungkan kejadian biasa itu. Menyebut koran sebagai yang “paling jitu untuk membakar”, ia barangkali hendak menyampaikan keteguhan keyakinannya pada kemuliaan kerja jurnalistik. Memiliki kuasa membentuk opini publik, pers bisa menjadi lokomotif yang menggerakan rakyat menuntut haknya.

Atau jangan-jangan Wendo sedang menyampaikan kritik? Ia mungkin sedang bicara tentang koran (pers) yang ditungganggi kepentingan politik sehingga bisa “membakar” rakyat demi kepentingan sesaat. Praktik yang makin sering mengganggu kewarasan kita akhir-akhir ini.

Dijuduli Lilin Cina, tulisan Arswendo tersebut merupakan satu dari 92 anekdot yang termuat dalam Menghitung Hari. Buku yang pertama kali terbit pada 1993 ini merupakan satu dari tiga buku yang ditulis Wendo tentang pengalamannya selama tinggal di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Dua buku lainnya adalah Khotbah di Penjara (1994) dan Surkumur, Mudukur, dan Plekenyun (1995).

Di ketiga buku tersebut, Wendo menuliskan beragam pernik hidup sehari-hari di rumah tahanan. Mulai dari yang duniawi, seperti akses air, kesempatan berolah raga, dan urusan seks, hingga yang surgawi, seperti kutipan-kutipan kitab suci dalam kebaktian atau persekutuan doa. Mereka yang membayangkan penjara sebagai tempat mencekam yang serba gelap bakal dibuat kecele oleh kisah-kisahnya yang jenaka dan seringkali konyol.

Kenapa Wendo bisa dijebloskan ke penjara, sejarah mencatatnya dengan baik. Ia kesandung kasus penistaan agama akibat angket ‘tokoh yang dikagumi pembaca’ di majalah Monitor pada Oktober 1990. Wendo ketika itu merupakan sang pemimpin redaksi.

Begitu hasil angket dipublikasikan, amarah banyak orang tak terbendung. Presiden Suharto tentu saja ada di posisi puncak, disusul beberapa tokoh besar lain, seperti Sukarno, Iwan Fals, dan bahkan Mbak Tutut. Wendo sendiri nangkring di urutan ke-10. Di bawahnya? Nabi Muhammad!

Membaca ketiga buku Wendo, kita tahu sang wartawan dan pengarang serbabisa ini tidak pernah kehilangan semangat hidup. Selama di penjara, ia tetap jenaka, ia terus tersenyum. Wendo bahkan mengambil segepok hikmah untuk dibawa pulang dan dibagikan ke sidang pembaca.


Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

X