Sabtu, 7 Desember 2019

Pameran Karya Seni Maestro, Remy Sylado yang Tak Ada Habisnya

- 12 Juli 2019, 14:51 WIB
KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

MEMBICARAKAN sosok Remy Sylado seolah tak pernah ada habisnya. Sang begawan serba bisa itu tampaknya tak pernah kehabisan nafas untuk berkarya. Geloranya selalu ada dan menginspirasi dari generasi ke generasi.

Hal itulah kiranya yang mencolok dalam pameran yang digelar di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat sejak 11 Juli sampai 19 Juli 2019. Mengambil tajuk “Pameran Karya Seni Maestro”, pameran kali ini dipersembahkan sebagai kado ulang tahun yang ke-74 bagi Remy Sylado. Pesannya, agar karya Remy Sylado menjadi pelatuk untuk perkembangan seni ke depan.

Sejak menapaki jalan seni, dia tak pernah tumbuh biasa-biasa saja. Lahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong, Remy Sylado meraih penghargaan pertamanya pada 1956 lewat karya lukis yang dia buat saat bersekolah di Sekolah Rakyat. Dari situ, gairahnya pada seni dan berkesenian seolah tak ada habisnya.

Dia mengenyam berbagai mata pelajaran seni dari lukis sampai musik. Belum lagi sastra yang kemudian menjadi salah satu kelihaiannya. Tak heran kalau kemudian pameran kali ini tidak hanya menampilkan karya lukisnya, tetapi sejumlah bibliografi Remy Sylado hingga diskografinya.

Dia juga dikenal aktif dalam dunia kewartawanan dan akademis. Menulai karier sebagai wartawan di Semarang pada 1965 kemudian menjadi redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), Remy Sylado juga menapaki jejak sebagai dosen Akademi Sinematografi Bandung sejak 1971 dan ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.

Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Beberapa karyanya yang populer dan ditampilkan dalam pameran ini di antaranya buku “Ca Bau Kan”, “Sam Po Kong”, “123 Ayat Tentang Seni”, hingga “Kamus Isme-Isme”.

Dalam diskografinya terdapat sejumlah karya folk-rock seperti “Bromocorah dan Putrinya” atau “Biangnya Puisi Mbleing: Orexas”. Album yang dirilis pada 1978 itu terilhami buku berjudul sama yang juga ditulis pria yang kerap menulis namanya dengan angka not balok menjadi 23 761 itu.


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X