Sabtu, 7 Desember 2019

Obituari Sutopo Purwo Nugroho, Dedikasi Sampai Akhir dan Raisa

- 7 Juli 2019, 22:24 WIB
SEORANG warga menunjukkan foto Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, ketika dirawat di Modern Hospital Guangzhou, Tiongkok. Sutopo meninggal dunia di rumah sakit tersebut Minggu, 7 Juli 2019, sekitar pukul 02:00 dini hari waktu setempat karena sakit kanker paru-paru stadium empat.*ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Kepala Pusat Data dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, telah meninggal dunia di Guangzhou, Tiongkok, Minggu, 7 Juli 2019, pukul 02.00 waktu setempat. Ia meninggal ketika dalam proses pengobatan kanker paru-paru yang telah dideritanya selama kurang lebih dua tahun terakhir.

Sesaat sebelum berangkat ke Guangzhou, Sutopo sempat mengunggah video ke akun instagramnya, Sabtu, 15 Juni 2019. Ia merekam video di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dengan gambaran suasana di dalam bandara.

Ia tampak tengah berjalan di lokasi bandara. Sambil berjalan, Sutopo menginformasikan tentang keberangkatannya ke China sebagai ikhtiar untuk mengobati kanker paru-paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lainnya. "Kondisinya sangat menyakitkan sekali," kata Sutopo dalam videonya. 

Dalam video itu, ia meminta doa restu supaya penyakitnya bisa disembuhkan dan bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terdekat. Ia juga memohon maaf bila tidak bisa menyampaikan informasi bencana dengan cepat seperti sebelumnya.

"Saya di Guangzhou selama satu bulan. Maaf, jika tidak bisa menyampaikan info bencana dengan cepat. Mohon maaf, ya," katanya. 

Sutopo meraih simpati dan empati masyarakat karena tetap mengemban tugas menyampaikan informasi mengenai kebencanaan meskipun dirinya tengah menderita kanker. Pada saat bencana gempa di Palu dan Donggala pada tahun 2018, misalnya, Sutopo tetap menjalankan tugas dengan menggelar konferensi pers kepada awak media, serta mengabarkan proses dan perkembangan penanggulangan dampak bencana di sana. Hampir setiap hari ia menggelar konferensi pers. 

Di balik penampakannya yang seolah-olah tidak kenal lelah menyampaikan informasi, ia kerap menahan nyeri akibat kanker. Saat hari-hari pertama gempa baru saja terjadi di Palu dan Donggala, ia menyampaikan permohonan maaf bila setiap telefon tidak bisa diangkat karena terlalu banyak wartawan yang menelefon. Tetapi, ia mengatakan bahwa dirinya selalu siap untuk menyampaikan konferensi pers setiap hari dengan bahan paparan lengkap supaya media tidak salah kutip.

Ia pun kemudian memberikan informasi tentang kesehatan dirinya yang terkena kanker paru-paru. Sakit kanker paru-paru stadium 4B telah menyebar di beberapa bagian tubuh sehingga ia menjadi lebih lemah.

“Rasa sakit yang mendera juga menyebabkan sulit untuk tidur nyenyak. Sekali lagi, mohon maaf saya tidak dapat melayani dengan prima semua pertanyaan rekan-rekan media. Jika sehat, pasti saya lakukan kapanpun, di mana pun, bagaimanapun, selama 24 jam 7 hari seminggu," tulisnya melalui broadcast Whatsapp, Minggu, 30 September 2019.


Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

X