Senin, 17 Februari 2020

Polarisasi Cebong vs Kampret dan 01 vs 02 Hambat Produktivitas Bangsa dan Negara

- 30 Juni 2019, 19:28 WIB
KETUA KPU Arief Budiman menyerahkan surat keputusan KPU tentang Penetapan Hasil Pemilu 2019 kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di gedung KPU, Jakarta, Minggu 30 Juni 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Polarisasi di kalangan masyarakat terkait Pilpres 2019 harus diakhiri. Polarisasi yang berlarut-larut tidak akan produktif bagi bangsa dan negara.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, ekses yang mengemuka sepanjang periode tahun politik 2019 adalah polarisasi masyarakat. Dari “kampret” versus “cebong” menjadi 01 versus 02.

"Rivalitas itu nyata-nyata tidak sehat dan juga tidak produktif. Fakta tentang polarisasi masyarakat ini harus disikapi dengan sangat serius dan bersungguh-sungguh," katanya, Minggu 30 Juni 2019.

Menurut dia, sebagai kecenderungan yang tidak sehat dan tidak produktif, polarisasi masyarakat tidak boleh berlarut-larut. Polarisasi itu akan berdampak pada ketahanan nasional.

"Pemerintah, DPR, dan semua institusi negara bersama organisasi besar di bidang keagamaan telah menunjukan keprihatinan sekaligus kepedulian terhadap masalah polarisasi ini," ujarnya.

Ia mengatakan, berbagai pendekatan terus diupayakan untuk mengakhir polarisasi. Namun, tanpa kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat, semua upaya pendekatan itu akan sia-sia.

"Sebab, pada akhirnya faktor penentu ada pada kemauan serta niat baik dan tulus semua komunitas di negara ini," tuturnya.

Menurut Bambang Soesatyo, seharusnya kini tidak ada lagi rivalitas politik antarkomunitas karena tahun politik 2019 yang memuncak pada Pilpres-Pileg telah berakhir dan telah difinalisasi oleh keputusan Mahkamah Konstitusi pada 27 Juni 2019.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X