Kamis, 2 April 2020

Reklame Liar di Malioboro Yogyakarta Ditertibkan

- 26 Juni 2019, 15:32 WIB
SUASANA kawasan Malioboro, Yogyakarta, yang diuji coba menjadi kawasan semipedestrian atau bebas kendaraan bermotor, belum lama ini. Uji coba ini juga iikuti penertiban reklame-reklame liar yang menganggu pemandangan dan keindahan kawasan tersebut.*/WILUJENG KHARISMA/PR

YOGYAKARTA, (PR).- Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menggencarkan penertiban reklame di Kawasan Cagar Budaya (KCB). Salah satu fokusnya adalah kawasan Malioboro yang menjadi kawasan utama wisata tersebut.

“Selain penataan pedestrian serta manajemen lalu lintas dan infrastruktur, penataan kawasan Malioboro juga harus didukung dengan penataan reklame yang menempel di bangunan. Harapannya, reklame dipasang sesuai aturan sehingga bisa menampilkan keunikan fasad bangunan di kawasan itu,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, di Yogyakarta, Selasa, 25 Juni 2019.

Heroe mengatakan, Pemkot Yogyakarta sudah memberikan aturan tentang pemasangan reklame di kawasan Malioboro, yaitu melalui Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 85 Tahun 2011. Aturan tersebut menyebutkan, jenis reklame luar ruang yang bisa dipasang di Malioboro dibatasi untuk billboard, cahaya, kain atau plastik, serta balon.

Reklame tersebut dapat dipasang di fasad bangunan, samping bangunan, dan lorong dengan aturan teknis seperti ukuran dan cara pemasangan. Reklame tidak boleh menutupi ornamen atau arsitektur bangunan, maupun atap bangunan.

“Tahun ini, kami gencarkan lagi penertibannya. Tahun 2019 akan jadi tahun penertiban, harus selesai di tahun ini,” tuturnya.

loading...

Selain itu, menurut Heroe, Pemkot Yogyakarta juga akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DIY terkait aturan reklame di kawasan Malioboro. Koordinasi dilakukan supaya aturan itu bisa berlaku di seluruh kawasan cagar budaya.

Di Kota Yogyakarta, terdapat lima kawasan cagar budaya yaitu, Malioboro, Pakualaman, Kotabaru, Kotagede, dan Kraton.Semuanya memiliki keunikan bangunan yang bisa mendukung perkembangan industri pariwisata di Yogyakarta.

“Fasad bangunan juga akan menunjukkan wajah Yogyakarta. Wisatawan yang berkunjung pun bisa segera merasakan bahwa mereka memang sedang berada di Yogyakarta. Ada keunikan yang dihadirkan,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X