Bandara Kertajati Sebaiknya Lebih Dikonsentrasikan untuk Haji dan Umrah

- 14 Juni 2019, 06:23 WIB
FOTO udara landasan Bandara Kertajati di Majalengka.*/ANTARA
FOTO udara landasan Bandara Kertajati di Majalengka.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Budijanto Ardiansjah berharap Bandara Kertajati (KJT) lebih dikonsentrasikan pada pemberangkatan haji dan umrah. Alasannya, wilayah tersebut memiliki pasar umrah yang potensial dan para penyedia layanan umrah pun telah siap untuk mendukung hal tersebut. Hanya, ia mengakui upaya tersebut terbentur masalah penerbangan.

Terkait dengan pemindahan sejumlah rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati, Budijanto berharap agar rute yang dpindahkan bukan rute wisata, semacam Bali. Alasannya, hingga saat ini para pelaku wisata masih berupaya untuk terus menarik kunjungan wisatawan ke Bandung.

“Rute-rute yang terkait wisata, seperti Denpasar harusnya jangan (dipindahkah) lebih baik tetap di Bandung karena kunjungan wisatawan bisa terpengaruh. Kalau untuk rute yang lain, seperti Kalimantan, Sumatera boleh dicoba tetapi jangan semua dulu karena kita juga tidak yakin. Ini memang pertarungan semua, semua spekulasi kita lihat bagaimana hasilnya,” kata Budijanto.

Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jabar Maktal Hadiyat mengatakan untuk menarik penumpang ke KJT maka yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan semua fasilitas pendukung dengan baik. Ia mencontohkan keberadaan hotel di sekitar KJT yang masih nihil. Sedangkan bagi kru penerbangan, keberadaan fasilitas tersebut sangat krusial.

Ia mencontohkan seorang pilot paling tidak harus beristirahat selama 8 jam sebelum kembali terbang. Jika pilot tersebut mendarat di KJT pukul 20.00 dan baru bisa meninggalkan bandara pukul 20.30 maka ia baru dapat beristirahat pukul 22.00. Pasalnya, saat ini hotel bintang 3 terdekat berlokasi di Cirebon yang berjarak 1,5 jam perjalanan. Artinya, jika dia harus terbang pukul 08.00 maka dengan jarak tersebut ia harus berangkat dari hotel pukul 05.00 sehingga waktu minimum beristirahat tidak terpenuhi.

“Hal seperti ini yang harus diperhatikan, baik faktor teknis maupun non teknis,” ujarnya.***

 

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X