Kamis, 2 April 2020

Apakah Cebong dan Kampret Saling Bermaafan?

- 6 Juni 2019, 10:16 WIB
ILUSTRASI cebong dan kampret.*/NGOPIBARENG.ID

Catatan penting, kata Kalis, elit politik belum memberikan contoh untuk upaya rekonsiliasi ini. padahal hajatan politik sudah selesai.

Soal peran elit politik yang minim dalam rekonsiliasi pasca Pemilu ini juga dibenarkan oleh pengamat sosial politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Hempri Suyatna. Di satu sisi, Hempri mengakui sebagian besar masyarakat Indonesia memang belum dewasa dalam perbedaan politik. Tetapi faktor yang dominan dari sikap itu adalah juga pengaruh elit politik. Hal-hal kecil dipolitisasi sehingga hubungan masyarakat yang sudah dingin, menghangat kembali.

Karena tidak bisa berharap banyak dari elit politik dalam waktu dekat, Hempri menyarankan masyarakat secara sadar memanfaatkan momentum Lebaran ini untuk rekonsiliasi.

“Lebaran ini momentum rekonsiliasi nasional yang bagus. Ini bisa menjadi gerakan yang muncul dari bawah, karena kalau kita mengharapkan dari atas belum muncul rekonsiliasi dari kedua kubu. Dari bawah harus dimulai rekonsiliasi lokal di level keluarga, untuk menjadi lebur bersama, melebur perbedaan untuk merajut masa depan,” kata Hempri.

Di tengah keluarga besar yang memiliki masalah hubungan karena politik, kata Hempri, ada pilihan apakah akan membicarakan persoalan ini bersama atau tidak. Namun tidak ada salahnya menjadikan ajang silaturahmi sebagai rekonsiliasi terbuka. Justru dengan cara itu, bisa muncul kesepakatan untuk mengakhiri hubungan panas pendukung Jokowi dan Prabowo yang masih bertali darah ini. “Perbedaan politik wajar, tetapi keluarga itu harus tetap menjadi nomor satu,” ujar Hempri memberi alasan.

Hempri meyakini, bertemunya Cebong, istilah yang dipakai untuk pendukung Jokowi, dan Kampret yang identik sebagai pendukung Prabowo di satu ruangan akan berdampak besar bagi bangsa. Apalagi jika ratusan ribu keluarga besar di Indonesia sepakat melakukan itu pada Lebaran tahun ini. Sejuknya hubungan di dunia nyata, harus diikuti dengan penurunan tensi di media sosial, termasuk kemauan untuk tidak lagi menjadi pendukung 01 atau 02.

loading...

“Salah satu buktinya nanti yang bisa dirasakan adalah ketika kita, sebagai bangsa, sepakat untuk tidak lagi mengenakan angka sebagai identitas politik. Tidak lagi ada 01 atau 02, yang ada adalah Indonesia. Juga, penting untuk berhenti menyebut saudara sendiri yang berbeda pilihan dengan sebutan Cebong dan Kampret. Itu sebutan buruk yang secara tidak sadar terus menebalkan jurang diantara kita sendiri. Kalau sudah salaman Lebaran ini, kita harus pensiun sebagai Cebong maupun Kampret,” tambah Hempri.***
 

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X