Selasa, 7 April 2020

Lagi, Petugas KPPS Meninggal Dunia

- 21 April 2019, 19:03 WIB
ILUSTRASI, Petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) menyegel amplop yang berisi surat suara sebelum didistribusikan ke kelurahan di gudang logistik KPU Jakarta Pusat, GOR Kemayoran, Jakarta, Selasa, 16 April 2019.*/ANTARA

BANYUMAS, (PR).-  Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Jawa Tengah yang meninggal bertambah seorang lagi, Sabtu malam 20 April 2019. Dengan demikian jumlah anggota KPPS dan TPS  yang meninggal di provinsi tersebut menjadi sembilan orang.

"Anggota KPPS yang meninggal  terakhir bernama Joko Siswanto  bertugas di TPS 10 Desa Nglinduk Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan. Almarhum meninggal Sabtu malam sekitar pukul 22.00  diduga karena kecapekan, padahal tadi malam sempat ngobrol sebentar waktu monitoring," kata Anggota KPU Jawa Tengah, Paulus Widiyantoro, saat dihubungi Minggu 21 April 2019.

Selain petugas KKPS Grobogan, delapan petugas KPPS dan TPS lainnya  adalah petugas KPPS dan TPS dari  Kabupaten Demak, Banyumas, Sukoharjo, Banjarnegara, dan Rembang. Para petugas KPPS dan TPS yang meninggal dunia yaitu Sugiharjo, petugas KPPS Desa Pingit Lor, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Subagyo, anggota KPPS di Kabupaten Demak, dan Suharto, petugas ketertiban TPS 17, Kelurahan Tegalgede, Kabupaten Karanganyar. Kemudian Pirno anggota Linmas di Kabupaten Pemalang, Slamet Mulyono petugas keamanan TPS 11 Kelurahan Proyonangan Selatan, Kabupaten Batang, Sopiah petugas KPPS 09 Banjarsari Kidul, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Yuli Anisah, petugas TPS 10 Wirun Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, serta Nurul Hidayati anggota KPPS Desa Landoh, TPS 7, Kabupaten Rembang.

"Petugas KPPS yang meninggal akibat kecelakaan adalah ibu Sopiah anggoa KPPS 09 Banjarsari Kidul, Sokaraja kabupaten  Banyumas. Meninggal akibat kecelakaan diduga akibat kelelahan sehingga hilang konsentrasi saat mengemudi. Kemudian  Nurul Hidayati Anggota KPPS Desa Landoh, TPS Desa Bondansari atau TPS 7 meninggal karena kecelakaan saat dalam perjalanan dengan sepeda  motor. Dia pulang  pagi hari pasca pemungutan dan penghitungan suara, informasinya terjatuh dari motor setelah kendaraannya menabrak lubang di jalan. Kemungkinan karena  kelelahan pada saat bertugas." jelas Paulus.

Dari patah tulang hingga keguguran

Selain delapan orang meninggal tersebut, KPU Jateng juga mencatat ada tujuh petugas TPS yang kelelahan dan harus dirawat di rumah sakit, bahkan tiga orang di antaranya  mengalami keguguran dan tujuh orang jatuh di TPS sampai ada yang patah tulang tangan, ada yang pingsan sampai berapa jam,  stroke sehingga harus di rawat di ICU.

Tiga orang petugas KPPS dan TPS yang mengalami keguguran  adalah Wiwid Wijayanti anggota PPK Jatinom Kabupaten Klaten, mengalami keguguran kandungan usia enam bulan. Dua wanita petugas KPPS lainnya adalah Umi Rojanah dan Siti Mungawanah dari Kebumen.

"Kami juga turut berduka cita dengan adanya anggota KPPS yang meninggal saat bertugas. Beban kerja mereka luar biasa besar, mulai dari menyiapkan TPS pada Selasa  16 April hingga harus sudah menjalankan tugas pada Rabu pag 17 April," ujarnya.

Paulus mengakui, jika  pengorbanan mereka untuk tidak sebanding dengan honor yang mereka terima.  Kerja keras KPPS tidak sebanding dengan honor yang harus mereka terima yakni Rp 500 ribu ditambah uang makan senilai Rp 45 ribu per sekali makan. 

Anggota KKPS dan petugas di TPS  bekerja tanpa asuransi. Termasuk biaya perawatan dan pengobatan juga tidak ada. Khusus untuk yang meninggal ada santunan. Anggaran tersebut berasal dari patungan komisioner  se-Indonesia, mengenai besarnya sedang dibahas karena yang meninggal bukan hanya di Jateng tapi di luar provinsi juga ada," tambah Paulus.

Halaman:

Editor: ella yuniaperdani

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X