Selasa, 10 Desember 2019

Kemkominfo Bersih-bersih Video Penembakan Selandia Baru di Media Sosial

- 15 Maret 2019, 19:50 WIB
Petugas mengevakuasi korban luka akibat aksi penembakan di masjid Al-Noor, Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat, 15 Maret 2019 waktu setempat.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Kementrian Komunikasi dan Informatika mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan video penembakan masjid di Selandia Baru. Pemerintah berupaya untuk melakukan proses pembersihan konten penembakan di semua platform media sosial.

"Kami mengimbau agar warganet dan masyarakat tidak menyebarluaskan atau memviralkan konetn baik dalam bentuk foto, gambar, video, yang berkaitan dengan aksi kekerasan berupa penembakan brutal yang terjadi di Selandia Baru," ujar‎ Plt Kepala Biro Humas Kementrian Komunikasi dan Informatika Ferdinandus Setu melalui siaran pers, Jumat, 15 Maret 2019.

Dia mengatakan, Kominfo mendorong masyarakat memperhatikan dampak penyebaran konten berupa foto, gambar, atau video tersebut. Penyebaran tersebut dapat menjadi oksigen bagi tujuan aksi kekerasan yaitu membuat ketakutan di masyarakat.

Menurut Ferdinandus, konten video yang mengandung aksi kekerasan merupakan konten yang melanggar Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kementrian Kominfo terus melakukan pemantauan serta pencarian situs‎ dan akun dengan menggunakan mesin AIS setiap dua jam sekali.

Selain itu, Kementrian Kominfo bekerja sama dengan Polri terus menelusuri akun-akun yang menyebarkan konten negatif berupa aksi kekerasan.

"Kami juga mendorong masyarakat untuk melaporkan melalui aduankonten.id atau akun twitter jika menemukan keberadaan konten dalam situas atau media sosial mengenai aksi kekerasan atau penembakan brutal di Selandia Baru," ujar dia.

Ferdinandus mengatakan, pihaknya telah melakukan proses pembersihan konten penembakan Selandia Baru di semua platform media sosial sejak pukul 13.30 WIB. "Tadi kami proses semua di Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube," katanya.

Berdasarkan pantauan Kominfo, telah ditemukan lebih dari 500 video yang diunggah di media sosial dna sudah diturunkan.‎ "Bilamana video tersebut diunggah kembali, maka secara otomatis tidak bisa diakses," ujarnya.***



Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X