Jumat, 6 Desember 2019

Pemikiran dan Pengalaman Dewi Sartika, Aktualkan Semangatnya dan Jangan Hanya Dikenang

- 7 Desember 2018, 04:06 WIB

SOSOK Raden Dewi Sartika, pada masa sekarang, perlu diaktualisasikan kepada generasi muda sebagai cerminan wanita Sunda yang tangguh dan pantang menyerah. Bahkan, nama Pahlawan Nasional wanita asal Jawa Barat itu sangat layak untuk diusulkan sebagai nama Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

”Tidak sedikit generasi muda sekarang ini yang tidak mengenal siapa Raden Dewi Sartika. Generasi muda, khususnya kalangan anak-anak, lebih mengenal Raden Ajeng Kartini ketimbang Raden Dewi Sartika. Padahal, kalau dilihat dari sepak terjang yang sudah dilakukan, warisan Raden Dewi Sartika bagi dunia pendidikan perempuan lebih nyata diban­dingkan dengan Raden Ajeng Kartini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernida. Ia mengatakan itu pada peringatan Hari Lahir ke-134  Ibu Raden Dewi Sartika di pelataran Monumen Per­juang­an Rakyat Jawa Barat (Monpera Jabar), Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Selasa 4 Desember 2018.

Peringatan Hari Lahir Ibu Raden Dewi Sartika, menurut Ida, diselenggarakan saban tahun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat bersama Yayasan Raden Dewi Sartika dan Yayasan Ahli Waris Pahlawan Nasional Dewi Sartika dan Agah Kanduruan Suriawinata (Awika).

Oleh karena itu, setiap kali peringatan Hari Lahir Ibu Raden Dewi Sartika, pihaknya tidak henti-hentinya mengingatkan agar perempuan Sunda khususnya dan Jawa Barat umumnya, harus memiliki kemampuan sebagai perempuan yang cageur, bageur, bener, pinter, tur singer.

”Saya masih teringat kata-kata (Dewi Sartika) akan perempuan Sunda,  ’Di samping pendidikan yang baik, perempuan bumiputra harus dibekali pelajaran yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan sangat berpe­ngaruh bagi moral kaum perempuan bumiputra. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah,” katanya.

Iwan Kurniawan, salah seorang cicit Raden Dewi Sartika, mengungkapkan, peng­usulan nama Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati menjadi Bandara Internasio­nal Raden Dewi Sartika didasarkan oleh berbagai pertimbangan.

”Selain keluarga menerima usulan berbagai pihak, juga karena pertimbang­an selama ini nama bandara di Indonesia menggunakan nama pahlawan daerah. Kami merasa, saat ini, sangat pantas kalau nama perempuan disematkan dan mendapat posisi sama dengan kaum pria, seperti nama Bandara Cut Nyak Dien di Aceh dan Fatmawati di Bengkulu,” ujar Iwan.


Halaman:

Editor: Retno Heriyanto

Tags

Komentar

Terkini

X