Max Havelaar dan Sebuah Gugatan dari Lebak untuk Amsterdam

- 25 September 2018, 03:04 WIB

Berguru dari Multatuli

Multatuli sebagai penulis novel Max Havelaar tidak hanya memberi daya kejut yang cukup kuat bagi publik Belanda saat itu hingga memunculkan politik etis saja. Lebih dari itu, karyanya bisa dianggap sebagai guru bagi sejumlah pemikir bangsa dan pejuang kemanusiaan.

Kultus atas Max Havelaar sebagai karya wajib baca bagi mereka yang memilih diri memperjuangkan hak kaum tertindas digaungkan di mana-mana dan oleh banyak pemikir ulung. Banyak pendapat dan respons positif disematkan untuk karya ini.

Raden Ajeng Kartini dalam Panggil Aku Kartini Saja misalnya, menyebut kesukaannya pada Multatuli menjadi sebab kenapa dia memiliki karya fenomenalnya, Max Havelaar. Sementara itu, dalam pidato ”Indonesia Menggugat” yang dibacakan Sukarno di Bandung pada 1930 juga disertakan perumpamaan Multatuli pada kejamnya sistem tanam paksa Belanda.

Penulis Pramoedya Ananta Toer lebih jauh lagi. Dalam sebuah wawancara dia berujar, politikus yang tak kenal Multatuli bisa menjadi politikus yang kejam. Sebabnya dia tak mengenal sejarah Indonesia dan tak tahu tentang humanisme modern.

Tak hanya memengaruhi tokoh-tokoh dalam negeri, Multatuli juga menginspirasi Jose Rizal, tokoh perjuangan Filipina di era akhir 1800-an. Dalam suratnya kepada Ferdinand Bluumentrit pada Desember 1888, dia menyebut Max Havelaar sungguh luar biasa.

”Tak pelak lagi, buku ini jauh lebih unggul dari karya saya sendiri,” kata Jose.***

Halaman:

Editor: Muhammad Irfan


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X