Selasa, 31 Maret 2020

Malioboro Yogyakarta Disergap Macet, Pemerintah Minta Wisatawan Maklum

- 14 Juni 2018, 11:48 WIB

YOGYAKARTA, (PR).- Akses menuju dan dari Jalan Malioboro, DIY padat merayap, Kamis 14 Juni 2018.  Meski pengerjaan pedestrian disetop sementara hingga usai Lebaran, namun membeludaknya jumlah pengunjung berakibat kemacetan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh berharap, pengunjung kebanyakan para pemudik yang mudik ke DIY. Ia berharap para pengunjung yang datang ke Malioboro memaklumi kondisi yang ada. Penataan dilakukan untuk meningkatkan kenyamaan wisatawan ke depannya.

Untuk lokasi parkir, Teguh menuturkan,  pengunjung khususnya di Malioboro dapat memanfaatkan lokasi yang sudah ada. Seperti Taman Parkir Abu Bakar Ali, Senopati, Sriwedani dan Ngabean. "Parkir Ketandan yang berada di bekas lahan UPN juga bisa dimanfaatkan," katanya.

Serbuan pemudik ke Malioboro mengakibatkan beberapa akses terpaksa dilakukan rekayasa lalu lintas kare asemua jalur menuju malioboro padat merayap. Dari Statsiun Tugu, Jalan Taman Siswa Hingga Gondokusuman. 

Sejumlah pengunjung Malioboro mengaku sengaja berlibur ke Yogyakarta karena tertarik dengan ragam souvenir, tempat wisata dan budayanya. Meski harus berjibaku dengan kemacetan arus lalu lintas, namun, hal itu tak membat para wisatawan mengurungkan niatnya berlibur ke Yogyakarta.

loading...

"Saya pilih liburan ke Malioboro karena sekalian ada saudara di sini. Selain itu,banyak tempat wisata yang jadi daya tarik. Memang sih, macet bikin kurang nyaman, tapi mau gimana lagi, emang lagi musim liburan," ujar salah seorang pengunjung, Dina Aryati (29).

Keuntungan pedagang meningkat

Peningkatan jumlah pengunjung juga dirasakan oleh para pedagang Pasar Tradisional Beringharjo, Yogyakarta. Mereka mengaku meraup keuntungan, karena tingkat penjualan di liburan akhir tahun ini mengalami peningkatan cukup signfikan, dibanding hari-hari biasanya. Hampir setiap sudut los pedagang penuh sesak dengan para pengunjung yang hendak berburu baju batik buat keluarga maupun sanak famili mereka.

"Penjualannya lebih bagus dibanding hari biasa. Sebelumnya kan sepi. Pendapatan pun meningkat, kalau hari biasa satu hari misal gak nyampai satu juta, sekarang bisa berlipat," ungkap Sumarmi, salah satu penjual batik di Pasar Beringharjo. 

Halaman:

Editor: Wilujeng Kharisma

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X