Daftar 200 Mubalig Kemenag Dinilai Tidak Representatif

- 20 Mei 2018, 07:35 WIB

JAKARTA, (PR).- Polemik munculnya daftar 200 mubaligh yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia mengundang kritik dari banyak pihak. Kritik bagi rilisnya 200 mubaligh Kemenag, salah satunya disampaikan oleh Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Menurut Ketua Umum LD PBNU KH Maman Imanulhaq, negara semestinya tidak perlu intervensi teralu jauh  dalam kehidupan beragama warga negara. Ketimbang mengeluarkan daftar, seharusnya Kemenag menginventarisir para mubalig secara berjenjang. Mulai dari tingkat desa dengan melibatkan ormas Islam dan pesantren.

“Dengan begitu, misalnya ada orang yang mau mengundang mubalig di wilayah tertentu, mereka tahu siapa yang harus diundang,” kata Maman kepada “PR”, Minggu 20 Mei 2018.

Ormas Islam lebih sesuai membuat daftar mubalig

Mantan anggota Komisi VIII DPR RI yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka itu juga menyarankan agar Kemenag membuat kriteria para mubalig.

“Kalaupun perlu dibuat daftar mubaliq, yang membuat daftar itu bukan Kemenag. Tapi ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al –Irsyad Islamiyah, Persis, dan yang lain dengan merujuk ke kriteria yang telah ditetapkan,” kata Maman.

Maman juga mengingatkan para petugas penyuluh agama  Kemenag agar meningkatkan kinerja serta bekerja sesuai porsinya. Sebab, selama ini banyak penyuluh agama yang justru menjadi mubalig, Menggantikan  peran para dai  yang seharusnya mereka bimbing.

“Padahal, seharusnya kehadiran para penyuluh agama membuat para mubalig menjadi lebih punya wawasan keislaman yang kuat, wawasan keindonesiaan yang kokoh, dan wawawan kemanusiaan yang dalam,” kata Maman.

Terkait konten ceramah agama di media, menurut Kang Maman, banyak produser acara keagaam Islam yang  pengetahuanya minim. Kemenag harus proaktif memberi pemahaman tetang agama Islam kepada para manajer dan produser program keagamaan, terutama di televisi.

“Undang semua produser program keagamaan di TV, berikan mereka wawasan bahwa menayangkan sebuah acara tidak sekadar disenangi penonton. Bagimana kalau akhirnya acara itu membahayakan bangsa  dan negara,” kata dia.

Halaman:

Editor: Muhammad Irfan


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network