Rabu, 3 Juni 2020

Penerbangan Jalur Selatan Kurangi Kepadatan 

- 2 Maret 2018, 05:15 WIB

TANGERANG, (PR).- Penerbangan Jakarta-Tasikmalaya di Jawa Barat oleh Wings Air dari Lion Group, dinilai membuka peluang jalur udara di selatan Pulau Jawa menjadi pilihan. Pemanfaatan ruang udara di jalur selatan juga diyakini akan mengurangi kepadatan pergerakan pesawat udara pada rute sebelah utara.

Namun, Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Tbk (persero) Triyanto Muhartono menilai, pemanfaatan jalur selatan masih belum efisien. Dia menjaslakan bahwa Maskapai Garuda Indonesia telah mengujicoba jalur selatan dengan penerbangan dari Jakarta ke Bali. Hasilnya, didapat waktu satu jam 34 menit. Sedangkan memanfaatkan jalur utara dari Jakarta ke Bali hanya satu jam 28 menit. 

"Kondisi ini tentu belum efisien bagi kami di maskapai yang memperhitungkan cost. Namun begitu tetap ada solusi selama belokannya lebih diperkecil," katanya dalam diskusi bertajuk "Tinjauan efektivitas rute penerbangan jalur selatan serta dampaknya terhadap perekonomian, pertahanan dan kedaulatan nasional", yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI), di Tangerang, Kamis 1 Maret 2018. Seminar itu dibuka Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Udara Sri Lestari.

Triyanto mengatakan, dengan perbedaan waktu enam menit, jumlah avtur yang dikeluarkan juga masih lebih besar atau mencapai selisih 300 kilogram atau 375 liter avtur. "Satu jam itu 2.600 kg avtur. Makanya karena rute ini sudah ada, sebaiknya dimodifikasi lagi supaya bisa lebih efisien. Apakah boleh dipotong jalurnya, kemudian kalau mendarat apakah boleh langsung tanpa harus memutar dan sebagainya," katanya. 

Menurut Triyanto, dengan pemanfaatan ruang udara jalur selatan akan mampu mengurangi kepadatan di jalur utara hingga 30%. Apalagi kondisi kondisi komunikasi di jalur utara juga kian padat. "Tinggal mencari titik-titik mana saja yang mau dipotong, dan itu membutuhkan koordinasi para stakeholeder terkait. Misalnya regulator Kemenhub, TNI AU serta pemerintah daerah setempat serta pihak maskapai dan Airnav," ujar dia.



Sementara itu, Manager Pengendalian Pelayanan AirNav Indonesia, Moeji Soebagyo mengatakan, jalur utara selama ini menjadi basis utama rute penerbangan maskapai komersial. Sedangkan, penggunaan jalur selatan dimanfaatkan namun untuk kebutuhan yang sifatnya darurat. Misalnya ketika terjadi kondisi luar biasa seperti gunung berapi, yang !dimanfaatkan sejumlah oleh maskapai.

Meski demikian, menurut dia, jalur selatan yang dikenal sebagai area T1 (Tanggo 1) bisa sangat efektif mengurangi kepadatan jalur utara saat ini. "Rute ini sebenarnya sudah ada, makanya kita usul supaya jadi jalur alternatif yang eksisting," katanya.

Diakui, meski sudah dimanfaatkan hampir oleh semua maskapai, cuma memang belum efisien. "Pemanfaatannya juga ketika terjadi kondisi luar biasa. Belum efisien sebab jaraknya perlu diperpendek," katanya. 

Moeji juga mengatakan, pihaknya selaku BUMN yang melayani navigasi penerbangan nasional akan berupaya untuk mengefektifkan rute jalur selatan. Sebab, jalur ini akan diperlukan ketika jalur utara sudah sangat padat. "Mau tidak mau jalur selatan akan padat, sehingga dibutuhkan ruang udara lain sebagai jalur alternatif. Nah potensi jalur selatan ini besar sebagai alternatif," katanya.***

Editor: Satrio Widianto


Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X