Setya Novanto Didakwa Terima 7,3 Juta Dolar Lebih

- 13 Desember 2017, 14:11 WIB
TERDAKWA kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto mengikuti sidang perdana di gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu 13 Desember 2017. Sidang tersebut mengagendakan pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum serta secara otomatis sidang praperadilan yang diajukan oleh Novanto di PN Jaksel gugur karena pokok perkara sidang sudah dibacakan.*

JAKARTA, (PR).- Setya Novanto didakwa mendapat keuntungan 7,3 juta dolar dan jam tangan Richard Mille senilai 135.000 dolar dari proyek e-KTP.

"Sehingga uang yang diterima terdakwa Setya Novanto baik melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo maupun Made Oka Masagung berjumlah 7,3 juta dolar AS," kata jaksa penuntut umum (JPU) Eva Yustisiana di pengadilan tindak pidana korupsi, Jakarta, Rabu 13 Desemeber 2017.

Uang itu bersumber dari Johannes Marliem yang merupakan Direktur Utama PT. Biomorf Lone Indonesia selaku penyedia Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merk L1 dan Anang Sugiana Sudiharsa sebagai Direktur Utama PT Quadra Solutions sebagai anggota konsorsium PNRI, pemenang tender pengadaan e-KTP.

"Johannes Marliem dan Anang Sugiana mengirimkan uang kepada terdakwa dengan lebih dulu menyamarkan menggunakan beberapa nomor rekening perusahaan dan tempat penukaran uang baik di dalam maupun luar negeri dengan rincian," ujar Eva.

Berikut ini rinciannya:
1. Diterima Setya Novanto melalui Made Oka Masagung (rekan Setya Novanto dan juga pemilik OEM Investmen Pte.LTd dan Delta Energy Pte.Lte yang berada di Singapura) seluruhnya 3,8 juta dolar melalui rekening OCBC Center branch atas nama OEM Investmen Pte.Ltd sejumlah 1,8 juta dolar dan melalui rekening Delta Energy Pte.Ltd di bank DBS Singapura sejumlah 2 juta dolar

2. Diterima Setya Novanto melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo (keponakannya) tanggal 19 Januari-Februari 2012 seluruhnya berjumlah 3,5 juta dolar.

"Setelah menerima uang itu sekitar November 2012, terdakwa juga menerima pemberian barang berupa 1 jam tangan Richard Mille seri RM 011 seharga 135.000 dolar yang dibeli Andi Agustinus bersama Johannes Marliem sebagai bagian dari kompensasi karena terdakwa telah membantu memperlancar proses penganggaran," ujar Eva seperti diwartakan Antara.

Pemberian “upah” tersebut diawali pada Juni 2010, yaitu ketika pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong yang juga punya kedekatan dengan Setya Novanto melakukan pertemuan di cafe Pandor dengan Johannes Marliem, Vidi Gunawan (adik Andi Agustinus), Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan Mudji Rahmat Kurniawa.

Dalam pertemuan tersebut, Andi Narogong menyampaikan informasi dari Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Irman bahwa anggaran e-KTP 2011-2012 baru ada Rp 1 triliun padahal kebutuhannya sebesar Rp 2,6 triliun. 

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X