Rumah Cemara: Kepolisian Jadikan Tora Sudiro Duta Dumolid

- 10 Agustus 2017, 07:17 WIB
Artis Tora Sudiro dihadirkan petugas Satuan Narkoba Polres Selatan saat akan menggelar konferensi pers terkait penggunaan dan kepemilikan obat keras Dumolid di Polres Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat, 4 Agustus 2017 lalu. Dalam keterangannya Satuan Narkoba Polres Jakarta Selatan mengatakan bahwa Tora Sudiro dan istrinya Mieke Amalia terbukti menggunakan obat tersebut karena menderita penyakit insomnia, sehingga Tora Sudiro resmi ditetapkan sebagai tersangka sementara istrinya dibebaskan.*

BANDUNG, (PR).- Penangkapan Tora Sudiro atas kepemilikan 30 pil Dumolid, dinilai seakan menjadikan suami dari Mieke Amalia tersebut menjadi duta mereka dagang (Brand Ambassador) Dumolid. Ditangkap dan ditahannya Tora Sudiro justru akan memicu masyarakat untuk mencari Dumolid tersebut.

Hal tersebut diutarakan Leonardus Ady Mulyadi dari Rumah Cemara, organisasi berbasis komunitas yang fokus pada kualitas hidup orang dengan HIV-AIDS, konsumen narkoba, serta kaum marginal lainnya di Indonesia. “Saya lebih setuju untuk meregulasi penjualannya, bukan mengkriminalisasi penggunanya,” ujarnya, Kamis, 10 Agustus 2017, dalam siaran pers yang diterima Pikiran Rakyat.

Dijelaskan, Dumolid adalah sebuah merek dagang nitrazepam, yakni obat sedatif hipnotik untuk gangguan tidur dan kecemasan jenis benzodiazepine. Sebagai sebuah merek dagang nitrazepam, obat sedatif hipnotik untuk gangguan tidur dan kecemasan jenis benzodiazepine.

Dumolid diketahui memiliki nama lain, di antaranya Dum, Mud, Dumadi, Naskun. Obat tersebut sejatinya diserahkan apotek ke pasien melalui resep dokter sebagaimana obat dengan resep pada umumnya walaupun masuk dalam Psikotropika Golongan IV dalam UU RI No. 5 Tahun 1997.

Sementara itu Patri Handoyo, salah seorang pendiri Rumah Cemara mengatakan penelitian yang dilakukan Satnarkoba Polres Jakarta Selatan terhadap barang bukti yang diamankan daam penangkapan Tora Sudiro seharusnya diumumkan pada publik. "Hal ini penting karena berdasarkan pemberitaan media pula kita mengetahui Tora juga melakukan pemeriksaan (asesmen) untuk mengikuti rehabilitasi," katanya. 

Dia menuturkan, jika memang kandungannya benzo, artinya Tora Sudiro melanggar Pasal 62 UU Psikotropika. Namun, rehabilitasi juga memiliki ketentuan. "Maka dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah benar seseorang ketergantungan dan membutuhkan perawatan. Kalau hanya konsumsi untuk rekreasi, kenapa harus direhab?” tutur Patri.

Kasus Fidelis

Patri menuturkan, kasus Tora Sudiro semakin menunjukkan sistem hukum pidana Indonesia yang penuh semangat penghukuman. Dia juga menilai, kasus Tora juga diindikasi adanya pihak yang menginginkan kasus Fidelis dilupakan masyarakat. 

Fidelis Arie Sidewarto adalah warga asal Kalimantan Barat yang didakwa atas penanaman ganja (Cannabis Sativa) untuk pengobatan istrinya, Yeni Riawati. Yeni mengidap penyakit langka syringomyelia, dan wafat 32 hari kemudian setelah Fidelis ditahan BNN atas penanaman Narkotika Golongan I menurut UU RI No. 35 Tahun 2009.

“Tora ditangkap sehari pasca ultra petita (vonis hakim yang melebihi tuntutan jaksa) terhadap Fidelis yang menanam ganja untuk pengobatan penyakit langka mendiang istrinya. Kami di Rumah Cemara tidak mau jika simpati terhadap Fidelis tertutup kehebohan kasus Tora hanya karena dia seleb yang tentu jauh lebih tenar ketimbang Fidelis yang merupakan PNS," tuturnya. 

Halaman:

Editor: Siska Nirmala Puspitasari


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X